Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Kasus Corona Meningkat, Sri Mulyani Prediksi Ekonomi RI Minus 2,4 %
Selasa 08 Desember 2020, 14:56 WIB

Situsnews - Jakarta 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi nasional tahun 2020 masih berada di teritori negatif. Sepanjang tahun 2020 ekonomi Indonesia diprediksi sekitar -2,4%.
Angka itu lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang pernah menyebut ekonomi Indonesia di 2020 -1,1% sampai 0,2%. Hal itu dikarenakan adanya lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi sejak November-Desember ini.

"Untuk proyeksi perekonomian 2020 -2,4%. Ini adalah tugas yang berat bagi kami semua untuk melakukan pemulihan di triwulan ke IV-2020 terutama karena kita melihat peningkatan penularan COVID di awal Desember," kata Sri Mulyani dalam acara US-Indonesia Investment Summit ke-8 yang digelar virtual, Selasa (8/12/2020).

"Ini adalah musim libur sama dengan negara-negara lainnya, sehingga kita perlu menggunakan rem dulu untuk pemulihan perekonomian," tambahnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut sudah ada perbaikan dari sisi demand karena mobilitas masyarakat telah meningkat. Namun di sisi lain, dia juga khawatir hal itu malah menimbulkan adanya peningkatan kasus COVID-19.

"Kita melihat secara perlahan orang-orang mulai meningkatkan mobilitas mereka. Semoga ini dapat mengindikasikan pemulihan ekonomi, bukan penularan COVID. Dengan meningkatnya mobilitas, maka akan ada jalan menuju pemulihan," imbuhnya.

Dia mengaku lebih optimistis pada 2021 untuk mendorong ekonomi tumbuh sekitar 5,3%. Namun dia menyebut hal itu tergantung pada vaksin untuk mengendalikan COVID-19 ke depan.

"Untuk 2021 pemerintah lebih optimis. Tapi tetap berhati-hati karena tentunya perekonomian diharapkan tumbuh sekitar 5%, tapi ini tergantung dari COVID, vaksin dan kemampuan kita untuk terus memperkuat pemulihan perekonomian," pungkasnya.

(Detik.com/)




Editor : Tim
Kategori :
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top