Sabtu, 5 September 2026

Breaking News

  • 19 Calon Pengurus BRKS Lolos UKK, Wawancara Akhir Digelar Besok   ●   
  • Dua Pekerja Diselamatkan Hidup-Hidup Setelah 9 Hari Terjebak di Terowongan Nepal   ●   
  • Prabowo Ajak Perusahaan Rusia Investasi di 138 Blok Energi Indonesia   ●   
  • Bagaimana Mengenali Orang Cerdas? Ini 9 Kebiasaan yang Bisa Diamati   ●   
  • Hari Pelanggan Nasional 2026, BRK Syariah Sudirman Apresiasi Nasabah   ●   
Seminar FPK, Wagubri Paparkan Pentingnya Pembauran Dalam Pembangunan Daerah Riau
Senin 07 Desember 2020, 06:36 WIB
Seminar Percepatan Pembangunan FPK Riau dilaksanakan di Hotel Grand Jatra Pekanbaru, Sabtu (05/12/2020)

PEKANBARU-Seminar Percepatan Pembauran dalam Pembangunan Daerah Riau yang ditaja Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dibuka secara luring oleh Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Brigjend TNI Purnawirawan Eddy Natar Nasution SIP, Sabtu (05/12/2020).

Dalam seminar ini, Wagubri didaulat sebagai keynotespeaker. Sedangkan narasumber yang dihadirkan yakni Dosen Pascasarjana Institute Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia Dr Nyoto PhD, dan praktisi Organisasi yang juga Ketua FPK Riau, Ir AZ Fachri Yasin MAgr.

Seminar diikuti sekitar 200 orang peserta yang berasal dari utusan Paguyuban se Provinsi Riau, utusan Bakesbangpol 12 Kabupaten/Kota se Riau dan utusan Farum Pembauran Kebangsaan (FPK) 12 Kabupaten Kota se Riau serta undangan lainnya.  

Dr Nyoto dalam seminar yang dimoderatori adalah Dr Santoso Almatesehi ini memaparkan materi Sumbangan Pemikiran Akdemisi dan Perguruan Tinggi dalam Upaya Mempercepat Pembauran (Ditinjau dari perspektif ke Tionghos-an).

"Saya merasa bahagia dapat menghadiri Seminar Percepatan Pembauran dalam Pembanguan Daerah Riau ini. Meskipun dalam suasana pandemi covid-19, kita semua masih dapat terhimpun di dalam majelis seminar dengan tetap menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah. Alhamdulillah, kehadiran kita semua menunjukkan bahwa kita berada dalam keadaan sehat walafiat dan semoga  situasi ini terus berlangsung hingga pandemi ini berakhi," ujar Wagubri.

Menurut Eddy Natar, seminar percepatan pembauran ini dinilai sangat penting dalam menghadapi dinamika perubahan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, terutama di Provinsi Riau. Dan Pemerintah Provinsi Riau tentu selalu mengawal dan mengayomi seluruh rakyat yang tinggal di daerah ini melalui kebijakan dan peraturan yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan berdasarkan keadilan.

"Karena itu, semua pihak tanpa terkecuali diharapkan dapat menaatinya. Dengan demikian, usaha untuk menjaga dan merawat pembauran di Provinsi Riau baik secara formal maupun nonformal dapat terus berlanjut. Tentu masalah dan dinamika pembauran kebangsaan ini akan menjadi kajian dan pembahasan menarik dalam seminar ini," harap Mantan Danrem 031/Wira Bima ini.

Dalam rangka menjaga dan merawat pembauran di Provinsi Riau pada era globalisasi dan keterbukaan saat ini, papar Eddy Natar, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat serta batas-batas negara yang semakin kabur, tantangan dan hambatan untuk menjaga dan merawat pembauran juga semakin besar.

"Globalisasi sebagai sebuah realitas tidak dapat dihindari. Globalisasi membentuk hubungan lintas negara dan berlalulintas tersebut memperlihatkan adanya ketergantungan satu dengan yang lain serta saling membutuhkan dan melengkapi. Pada satu sisi perkembangan telah memberi dampak positif dan kita dapat merasakan manfaatnya," ulas Eddy Natar.

Realitasnya, sebut Wagubri, globalisasi tidak hanya menawarkan dinamika dampak positif. Tidak dapat dinafikan berbagai permasalahan juga harus ditanggung terkait globalisasi tersebut. Yang dalam konteks ini dilihat sebagai tantangan.

"Berbagai nilai dengan identitas paham baik yang sudah lazim dikenal maupun yang mengambil bentuk baru, berseliweran menyertai tata pergaulan dan interaksi di tengah arus globalisasi. Setidaknya berbagai nilai dapat dilihat
masyarakat dengan hubungannya dengan dunia maya serta akses terhadap informasi yang difasilitasi secara luas inelalui internet," beber Wagubri.

Tantangan yang dihadapi, ungkap Eddy Natar, berkembangnya berbagai paham yang kurang sesuai dengan nilai-nilai ideologi Pancasila. Akibatnya, timbul pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat yang kurang selaras dengan nilai-nilai kebersamaan

Disamping itu, Kehadiran media sosial di tengah kemajuan teknologi informasi seolah menjadi potret kecanggihan manusia modern, dalam menciptakan layanan inovatif yang bermanfaat bagi kelancaran relasi diantara individu manusia di berbagai belahan dunia. Pemanfaatan media sosial dalam konteks masa kini merupakan instrumen penting untuk mempermudah interaksi dan jaringan dalam berbagai aspek kehidupan.

"Manusia modern sekarang ini seolah tidak bisa lepas dari media sosial yang dipergunakan untuk berbagai kepentingan baik kepentingan bisnis media aspirasi, kritik, maupun kepentingan politik demi memperoleh dukungan dari rakyat. Melalui media sosial manusia dengan mudah berkomunikasi dengan sejawatnya tanpa hambatan apa pun. Bisa dikatakan, bahwa saat ini umat manusia telah sampai pada penjajahan global (global colonizing), sebuah petualangan jagat alam raya maya yang melampaui realitas. Dari kemajuan inilah, muncul berbagai harapan, euforia dan optimisme dalam menyambut datangnya sebuah era baru (new age) yang tidak terbungkus oleh sekat-sekat geografis, ideologis dan batasan-batasan normatif-etis dalam menjelajahi dunia realitas," ulas Eddy Natar.

Dikatakannya, perkembangan media sosial telah memungkinkan manusia hidup dalam dunia yang disebut "desa global" (global village), sebuah dunia yang tak lebih besar dari layar kaca. Realitas virtual inilah, yang akan memberikan jaminan yang lebih dari sekadar realitas kosong (vacum reality), sehingga kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh banyaknya kesenangan dan ketidaksenangan yang diakibatkannya.

"Pernasalahan yang masih menjadi beban kita sebagai bangsa yang beragam adalah radikalisme. Radikalisme disebabkan oleh minimnya pemahaman agama. Belajar agama secara dangkal dapat memicu mereka melakukan kekerasan, bahkan atas nama agama," katanya.

Kekayaan Provinsi Riau berupa keragaman, menurut Wagubri, pada hakikatnya adalah keberkahan dari Tuhan yang luar biasa. Keberagaman menjadikan kehidupan di Provinsi
Riau menyimpan potensi luar biasa. Potensi keragaman adalah aset yang sangat ternilai harganya pada masa mendatang.

"Jika perbedan dan keberagaman itu tidak didasari dengan rasa saling menghargai dan memiliki, maka bisa menimbulkan terjadinya konflik karena rasa ingin menjadi yang terbaik atau lebih cenderung menonjolkan rasa kesukuan atau kelompok. Oleh karena itu, keragaman harus dikelola dengan bijak. Bila keragaman dapat dikelola dengan baik, maka ia akan menjadi kekuatan besar. Namun sebaliknya, bila kita salah dalam menjaga keragaman, maka semua justru akan menjadi ancaman dan bahaya. Sebagai masyarakat yang beragam sudah seharusnya kita tidak asing untuk menjalani kehidupan bermasyarakat, di dalam keberagaman yang harus disikapi dengan penuh toleransi satu sama lain. Untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, para pendiri bangsa telah merumuskan suatu bentuk ideologi yang dapat dijadikan pedoman bangsa Indonesia, ideologi tersebut adalah Pancasila," paparnya.

Kemudian dalam rangka penyelenggaraan pembauran kebangsaan, sebut Wagubri, perlu sinergi antara pemerintah akademisi, dan masyarakat. Peran pemerintah daerah dalam hal ini telah diatur oleh Permendagri nomor 34 Tahun 2006, bahwa Penyelenggaraan pembauran kebangsaan di provinsi menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh masyarakat, di fasilitasi dan dibina oleh pemerintah Provinsi. Permendagri ini juga mengatur tugas dan kewajiban Gubernur yang didelagasikan kepada Wakil Gubernur dalsm rangka fasilitasi dan pembinaan pembauran kebangsaan.

"Melalui permendagri nomor 34 Tahun 2006, pemerintah mengamanatkan Pembentukan Forum Pembuan Kebangsaan (FPK) yang dibentuk di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota.Kecamatan dan Desa/Kelurahan. Pembentukan IPK dilakukan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah daerah serta memiliki hubungan yang bersifat konsultatif Pemerintah menyadari bahwa bangsa Indonesia yang multikultural dan terdiri atas berbagai suma dan etnis, dengan berbagai latar belakang budaya, adat istiadat dan agama, sangat berpengaruh terhadap persatuan dan kesatuan serta keberlangsungan kehidupan berbangsa dan negara. Pembauran Kebangsaan merupakan proses penting yang dapat meningkatkan kesadaran dan perwujudan persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka pemantapan kelangsungan kehidupann berbangsa dan bernegara," papar Wagubri lagi.(syf)




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top