Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Kementan Pacu Pengelolaan Sumber Daya Pangan Lokal Sebagai Pangan Alternatif
Rabu 11 November 2020, 18:46 WIB

Situsnews - Jakarta

Sumber daya pangan lokal menjadi pangan alternatif saat ini sedang gencar digalakkan pemerintah. Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan 6 produk pangan yang bisa menjadi pengganti nasi yaitu jagung, ubikayu, talas, pisang, sagu dan kentang. Pada acara webinar dengan Lemhanas hari Rabu (11/11), Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyebut Indonesia memiliki potensi bahan pangan lokal sangat besar yang bisa diolah untuk memenuhi kecukupan gizi.

Suwandi mengatakan Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman.

Dengan potensi bahan pangan yang sangat besar tersebut, masyarakat Indonesia seharusnya sangat mampu untuk melakukan diversifikasi pangan, yaitu tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja.

Upaya membangkitkan pangan lokal dapat dilakukan dengan pendekatan demand side. “Kita mulai gaungkan trend baru konsumsi pangan lokal sebagai lifestyle, dorong regulasi konsumsi pangan lokal dan operasionalnya melalui kampanye cintai produk dalam negeri atau pangan lokal,”ujar Suwandi.

Ia berharap mulai adanya branding bahwa pangan lokal bukan barang inferior. Secara luas bisa dengan peran serta pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menyajikan konsumsi pangan lokal dalam berbagai acara.

Tidak hanya sampai di sana, kini dalam mendukung upaya lumbung pangan Kementan juga mulai menggarap metode pertanian pola integrated farming dengan menerapkan zero waste yang belakangan ini banyak ditekuni petani untuk memenuhi berbagai kebutuhan pangan secara holistik dalam satu lahan. Pola integrated farming ini merupakan pengelolaan pertanian terpadu, dimana dalam satu hamparan dibudidayakan banyak komoditas yakni padi, sayur, ayam, lele, sapi dan komoditas pangan lainnya.

“Dalam mewujudkan kemandirian pangan Kementan juga sangat mendukung petani dalam melakukan metode pertanian integrated farming dengan zero waste yang artinya penggunaan eksternal input diminimalisir, apa yang ada di dalam diputar agar efisien di sisi input. Bahkan bisa sampai 4 kali tanam selama setahun,” ungkap Suwandi.
Ia menambahkan Kementan di bawah komando Mentan Syahrul Yasin Limpo sangat serius mendorong pengembangan pola integrated farming ini melalui pemberian bantuan KUR, bantuan bibit dan sarana produksi lainnya. Pola ini menjadi model untuk dikembangkan di berbagai daerah sehingga ketahanan pangan nasional didukung semua daerah dan terjadi peningkatan kesejahteraan petani secara holistik di seluruh wilayah Indonesia.

Akhmad Fauzi dari FEMA IPB menambahkan bahwa kekuatan pasar akan terdorong dari ucapan seorang tokoh atau aktor utama. Contohnya pada ucapan seorang Perdana Menteri Pakistan untuk mendorong konsumsi telur dalam negeri, pasar pun akan respon dengan baik dan meningkat. Ia mengatakan bahwa peran pempim ini yang sangat besar untuk merubah pola hidup masyarakatnya. Ketika pemimpin yang berbicara maka dampaknya akan luar biasa. karena peran dari seseorang yang menjadi panutan itu akan berdampak luar biasa.

Di dalam kandungan pangan lokal yang menjadi kearifan lokal atau budaya masyarakat setempat terkandung nilai gizi yang luar biasa. Contohnya seperti budaya masyarakat Jogjakarta untuk memasak lodeh saat bencana. “Di dalam kandungan sayuran tersebut ternyata isinya banyak sekali manfaat gizinya, tukas Akhmad Fauzi.

Senada dengan hal tersebut, Afrizal Gindow dari PT East West Seed Indonesia mengaku pihaknya turut andil mengembangkan produksi pangan di Indonesia. Salah satu yang menjadi fokusnya adalah produk hortikultura. “Tanaman hortikultura ini umurnya pendek yang dijadikan sebagai alternatif pangan, kita harus cari alternatifnya tidak hanya kepada pangan padi jagung dan kedelai saja tapi ada alternatif lainnya,” ujarnya.

Beberapa produk alternatif pangan sudah mereka keluarkan seperti bawang merah, semangka, jagung manis, jagung ungu, ketan, serta labu. Afrizal mengatakan permintaan benih hampir lima kali lipat meningkat dan datangnya kebanyakan dari masyarakat perkotaan, terutama kaum ibu-ibu milenial.

“Mumpung meningkat minatnya, jangan sampai nanti kendor. Makanya kami sedang berpacu untuk meningkatkan partisipasi anak muda,” ujarnya. Dengan mengenalkan hidroponik sayuran, Afrizal ingin masyarakat bisa memanfaatkan lahan sempit dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Saya senang kaum milenial tidak lagi mengatakan pertanian adalah kaum terbelakang. Dan saat ini kami juga sedang membina juga olahan pangan, mengenalkan untuk pelatihan ke pelajar SMK. Untuk itu perlu dukungan penuh seperti dari walikota dan Bupati untuk adakan pelatihan,” sebutnya.

(Deptan/AS)




Editor : Tim
Kategori :
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top