Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Lampung Optimalkan Budidaya Padi Gogo Untuk Tingkatkan Produksi Beras
Jumat 06 November 2020, 10:15 WIB

Situsnews.com Lampung Utara - Di tengah maraknya alih fungsi lahan sawah irigasi produktif menjadi perumahan dan kawasan industri khususnya di pulau jawa, kabar gembira datang dari para petani di wilayah Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung.

Para petani di wilayah itu kini sedang gandrung mengembangkan padi gogo di lahan kering, terutama di bekas lahan karet dan kelapa sawit. Di satu kecamatan saja, berdasarkan data dari Cabang Dinas Pertanian Abung Surakarta, di tahun 2020 ini ada setidaknya 107 hektar lahan kering yang ditanami padi gogo, 50 hektar diantaranya merupakan koversi lahan kebun sawit dan karet.

Sebagaimana kita ketahui beberapa tahun belakangan harga komoditas sawit dan karet mengalami tekanan. Menurut Kepala Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Abung Surakarta, Wardoyo, sudah sekitar dua tahun ini petani di wilayahnya mengembangkan padi gogo.

Di tengah harga sawit, karet dan ubi kayu yang kurang menguntungkan petani, bertanam padi gogo menurutnya menjadi peluang yang sangat menarik.

“Alhamdulillah, hasilnya cukup menggembirakan, produktifitas rata rata mencapai 8-9 ton, meskipun di lahan kering”, jelas Wardoyo di Lampung, Selasa (3/11/2020).

Pada pertemuan penyuluh pertanian setempat dengan Tim Pendamping BPP Kostratani dari Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung baru-baru ini pun Wardoyo menegaskan kesuksesan ini merupakan hasil 'trial and error' yang dilakukan para penyuluh dan petani dengan dukungan Laboratorium Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikutura Dinas TPH Provinsi yang ada di Kabupaten Lampung Utara.

“Beberapa komponen teknologi yang mendukung keberhasilan ini diantaranya adalah penggunaan benih hibrida, pupuk kandang, serta pengamatan hama secara terpadu. Kami ingin menghasilkan produk padi yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Kepala Bapeltan Lampung, Abdul Roni Angkat, keberhasilan pengembangan padi gogo di lahan kering dan meningkatnya minat petani perkebunan yang mengubah lahannya menjadi padi gogo, ini makin menambah keyakinan bahwa swasembada beras yang dicita-citakan akan bisa terwujud meski tanpa harus mencetak sawah baru atau membangun bendungan dan jaringan irigasi yang membutuhkan investasi besar dari pemerintah.

“Balai Pelatihan Pertanian Lampung akan memberi dukungan penuh bagi pengembangan SDM dan teknologi bagi pengembangan padi gogo ini agar bisa lebih meluas aplikasinya, khususya di Kabupaten Lampung Utara dan secara umum di wilayah kerja Bapeltan yaitu meliputi Provinsi Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Bangka Belitung,” kata Abdul Roni.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memiliki langkah strategis guna mengamankan produksi pangan nasional, salah satunya pengembangan padi gogo dalam memanfaatkan lahan kering dan menghadapi musim kering.

“Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan berupa alat mesin pertanian, sumur dangkal dan pompa air agar kebutuhan air irigasi tersedia di lahan kering. Selain itu, petani pun dibantu dengan fasilitas kredit usaha rakyat dan asuransi pertanian sehingga petani benar-benar terbantu dari permodalan dan kegagalan panen,” ujarnya.

Suwandi menambahkan pengembangan padi gogo di lahan kering merupakan salah satu terobosan guna memperkuat produksi atau ketersediaan beras tahun 2020 ini. Menurut Data BPS, produksi beras tahun 2020 mencapai 31,63 juta ton atau naik 1,00% dibanding tahun sebelumnya sebesar 31,31 juta ton.

"Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kami terus terjun ke lapangan, tidak hanya sekedar memonitor tapi memastikan langsung dan cepat mengambil langkah nyata jika terdapat lahan yang belum melakukan pengolahan dan penanaman," tegasnya.(HumasDeptan/As)




Editor : Tim
Kategori :
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top