ALLAH senantiasa mengetahui keadaan hamba-Nya. Simak pesan tentang keberanian berbuat baik, mengutamakan rida Allah, dan pentingnya ikhtiar dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman:
“Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah senantiasa mengatur urusan makhluk-Nya, tanpa jeda dan tanpa pernah lelah. Tidak ada satu detik pun dalam kehidupan kita yang luput dari pengetahuan, perhatian, dan kasih sayang Allah.
Kehidupan manusia dipenuhi berbagai pergantian keadaan. Ada kalanya kita sehat atau sakit, lapang atau sempit, bahagia atau sedih, sukses atau gagal. Semua itu tidak berjalan tanpa kendali. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan bagaimana Allah senantiasa mengatur urusan makhluk-Nya, memberikan rezeki, menghidupkan dan mematikan, mengampuni dosa hamba-Nya, serta memenuhi kebutuhan mereka.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis qudsi:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya. Namun, sayangnya, manusia sering kali justru lalai. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia dan terlena oleh kesibukan sesaat hingga lupa bahwa Allah senantiasa mengetahui keadaan kita.
KH. Hasan Abdullah Sahal pernah berpesan, “Jangan takut salah ketika berbuat baik. Lebih baik berbuat lalu salah, daripada tidak berbuat sama sekali karena takut salah.”
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung hikmah yang mendalam. Terkadang, karena takut melakukan kesalahan, kita memilih diam dan tidak mengambil langkah. Padahal, sikap tersebut bisa membuat kesempatan untuk melakukan kebaikan terlewat begitu saja.
Selama niat kita lurus dan ikhtiar dilakukan dengan cara yang benar, kita perlu berani melangkah. Kesalahan dapat menjadi pelajaran untuk memperbaiki diri dan melakukan kebaikan dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Di antara bentuk rasa takut yang tercela adalah ketika seseorang lebih memilih mencari rida manusia meskipun harus membuat Allah murka. Ia berusaha menyenangkan hati orang lain, sekalipun harus melanggar aturan Allah, padahal ia menyadari bahwa perbuatannya itu salah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan mencukupkannya dari beban manusia. Barang siapa yang mencari rida manusia sementara Allah murka, maka Allah akan membiarkannya bergantung kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan pentingnya menjadikan rida Allah sebagai prioritas dalam kehidupan. Keberanian berbuat baik, meskipun masih memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki, lebih utama daripada tidak berbuat apa-apa hanya karena takut terhadap penilaian manusia.
Kisah Umar bin Khattab dan Keyakinan akan Pertolongan Allah
Sejarah Islam mencatat keteguhan Umar bin Khattab RA dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan ikhtiar dan keyakinan kepada Allah.
Suatu ketika, Umar berangkat menuju Baitul Maqdis. Dalam perjalanan, ia menghadapi persoalan terkait wilayah yang sedang dilanda wabah. Para sahabat membicarakan apakah mereka akan melanjutkan perjalanan atau menghindari wilayah tersebut.
Umar kemudian berkata, “Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”
Ucapan tersebut menggambarkan bahwa ikhtiar bukanlah bentuk penolakan terhadap takdir Allah. Sebaliknya, manusia tetap harus mempertimbangkan keadaan dan memilih langkah terbaik untuk menghindari bahaya.
Keyakinan kepada Allah tidak berarti kita hanya berdiam diri dan menunggu pertolongan datang. Keyakinan itu justru harus mendorong kita untuk berusaha, mengambil keputusan dengan bijak, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kehidupan sering kali membuat hati terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ada saatnya kita merasa sendirian ketika menghadapi persoalan, padahal Allah senantiasa mengetahui keadaan dan setiap langkah hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah, termasuk bisikan hati yang tidak diketahui orang lain.
Karena itu, jangan biarkan hati kosong dari mengingat Allah. Jadikan setiap langkah dalam kehidupan sebagai bentuk kesadaran bahwa Allah mengetahui keadaan kita, mendengar doa-doa kita, dan menjadi tempat kita memohon pertolongan.
Jangan takut berbuat baik hanya karena khawatir terhadap penilaian manusia. Teruslah berikhtiar, perbaiki niat, dan jadikan rida Allah sebagai tujuan utama. Sebab, dalam setiap keadaan, kita selalu membutuhkan petunjuk, rahmat, dan pertolongan-Nya. (suaramuhammadiyah)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Gaya Hidup |



01
02
03
04
05
