Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta wartawan tidak hanya memberitakan pencapaian pemerintah, tetapi juga menyampaikan kritik apabila terdapat kebijakan atau pelaksanaan program yang keliru.
Hal itu disampaikannya dalam acara Anugerah Jurnalistik Sekolah Rakyat 2026 di Sekolah Rakyat Terpadu, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2026).
Dalam sambutannya, Gus Ipul terlebih dahulu menekankan pentingnya peran wartawan dalam menyampaikan informasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
"Bagi kami, wartawan bukan sekadar menyampaikan berita. Wartawan adalah mata yang membantu melihat mereka yang terabaikan, telinga yang mendengar mereka yang tak terdengar, dan suara bagi mereka yang selama ini tak bersuara," kata Gus Ipul.
Ia menjelaskan, hampir setiap urusan di Kementerian Sosial memiliki tingkat risiko yang tinggi karena berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, bukan sekadar angka, anggaran, maupun kegiatan.
"Ada 12 kelompok pemerlu atensi sosial atau sering kita sebut 12 PAS. Mulai dari anak-anak rentan, penyandang disabilitas, lansia telantar, korban bencana, hingga fakir miskin. Di balik setiap angka ada manusia, di balik setiap manusia ada cerita dan di balik setiap cerita ada harapan yang harus kita jaga," ujarnya.
Gus Ipul mengatakan, amanat untuk memperhatikan masyarakat yang membutuhkan bantuan telah tertuang dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Ketentuan tersebut menjadi landasan bagi negara, termasuk Kementerian Sosial, untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
"Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kami terus memperbaiki fondasi perlindungan sosial melalui prinsip data akurat, tepat sasaran. Sebab kesalahan data bukan sekadar kesalahan administrasi. Kesalahan data bisa berarti ada orang miskin yang kehilangan haknya, ada keluarga yang membutuhkan tapi belum terjangkau negara," jelasnya.
Melalui program Sekolah Rakyat, Gus Ipul menyebut Presiden Prabowo membuka jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Saat ini, terdapat 182 titik Sekolah Rakyat di Indonesia.
Sejalan dengan pelaksanaan program tersebut, ia meminta wartawan turut mengawasi berbagai kebijakan dan program pemerintah melalui pemberitaan yang kritis serta bertanggung jawab.
"Dalam seluruh ikhtiar ini, kami membutuhkan pers yang merdeka, kritis, dan bertanggung jawab. Kami tidak meminta wartawan hanya menulis keberhasilan. Kritiklah jika ada yang keliru, ingatkan kami jika ada yang tertinggal. Sebab pujian akan membuat kita bersemangat, tapi kritik yang jujur membuat kita tetap berada di jalan yang benar," tuturnya.
Menurut Gus Ipul, Anugerah Jurnalistik Sekolah Rakyat bukan sekadar ajang pemberian penghargaan, melainkan bentuk penghormatan kepada insan pers yang konsisten mengungkap fakta, menulis dengan nurani, dan berpihak pada kemanusiaan.
"Kepada para pemenang, saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya. Semoga penghargaan ini menjadi penambah semangat untuk terus menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, kritis, dan berpihak kepada kemanusiaan," ucapnya.
Ia juga memberikan semangat kepada peserta yang belum meraih penghargaan agar terus berkarya dan menjaga integritas dalam menjalankan profesi jurnalistik.
"Kepada yang belum mendapatkan penghargaan, jangan berkecil hati. Sebab dedikasi Anda di dunia jurnalistik tidak semata-mata diukur oleh piala, tetapi oleh kebenaran yang diperjuangkan, nurani yang digerakkan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat," imbuhnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang. Penghargaan diserahkan oleh Gus Ipul bersama Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Gus Imin. (detik)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Nasional |



01
02
03
04
05
