Kamis, 15 Oktober 2026

Breaking News

  • Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya dan Dermawan   ●   
  • Bupati Siak Afni, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau Penerima Grand Award Baznas RI 2026   ●   
  • Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta   ●   
  • Bantuan Masjid dan Musala 2026 Dibuka, Simak Syarat dan Jadwal Pengajuan   ●   
  • Bukan Sekedar Ngopi, Selaso Cafe di Kantor Bupati Siak Jadi Ruang Tunggu Rakyat Temui Bupati   ●   
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta
Kamis 15 Oktober 2026, 07:24 WIB

KEKAYAAN dan penghasilan yang besar kerap dikaitkan dengan gaya hidup mewah, kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta ambisi yang tidak pernah terpuaskan dalam mengejar harta. Padahal, kekayaan dapat menjadi nikmat sekaligus ujian bagi keimanan seseorang.

Harta dan kedudukan duniawi dapat melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Karena itu, setiap Muslim, terutama mereka yang dianugerahi kekayaan berlimpah, perlu mewaspadai fitnah harta dan senantiasa melakukan introspeksi diri.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan besarnya bahaya kerakusan terhadap harta dan kedudukan bagi agama seseorang.

Beliau bersabda:

“Tidaklah dua ekor serigala kelaparan yang dilepaskan ke tengah sekawanan kambing lebih besar kerusakannya terhadap kambing tersebut dibandingkan dengan kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya.”

Kerakusan terhadap harta dapat mendorong seseorang terus mengejar kepentingan duniawi hingga mengabaikan nilai-nilai agama. Sifat tersebut juga berpotensi menumbuhkan kesombongan dan keinginan berbuat kerusakan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Qashash: 83).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan bukan ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya kedudukan, melainkan oleh ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.

Bahaya Fitnah Harta bagi Keimanan

Seorang Muslim hendaknya tidak merasa terlalu percaya diri bahwa keimanannya cukup kuat untuk menghadapi godaan kekayaan. Setiap orang tetap perlu memohon pertolongan Allah agar tidak bergantung sepenuhnya pada kemampuan dirinya sendiri.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkan urusan seorang hamba kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, salah satu bentuk kerugian adalah ketika seseorang dibiarkan bergantung hanya pada dirinya sendiri.

Prinsip ini sejalan dengan doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar seluruh urusan diperbaiki dan tidak dibiarkan bergantung pada diri sendiri, meskipun hanya sekejap mata.

Rasulullah juga mengajarkan doa agar dunia tidak menjadi tujuan utama kehidupan seorang Muslim.

Beliau bersabda dalam sebuah doa:

“Janganlah Engkau menjadikan musibah kami menimpa agama kami dan janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai perhatian utama kami.”

Dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah bagi umat beliau adalah harta.

Harta dapat menjadi ujian ketika seseorang terlalu sibuk mengumpulkannya hingga melupakan kewajiban kepada Allah dan kehidupan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS At-Taghabun: 15).

Rasulullah juga mengingatkan bahwa beliau tidak terlalu mengkhawatirkan kemiskinan yang menimpa umatnya. Beliau justru mengkhawatirkan ketika kekayaan dan kemewahan dunia dibentangkan sehingga umat berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana umat terdahulu.

Persaingan yang tidak sehat, kecintaan berlebihan terhadap harta, serta kesibukan mengumpulkannya dapat membuat seseorang lalai mengingat Allah dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Selain itu, keinginan terhadap harta sering kali tidak memiliki batas. Seseorang yang telah memiliki banyak kekayaan bisa saja tetap menginginkan lebih banyak lagi.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkan sifat tersebut melalui sabdanya bahwa seandainya manusia memiliki dua lembah penuh harta, ia masih menginginkan lembah yang ketiga.

Kerakusan semacam ini dapat menguras tenaga dan pikiran, bahkan membuat seseorang mengorbankan banyak hal demi memenuhi ambisinya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa orang yang mencintai dunia secara berlebihan tidak akan lepas dari tiga hal: kegelisahan yang tidak kunjung hilang, keletihan yang berkepanjangan, dan penyesalan yang tiada akhir.

Memanfaatkan Harta untuk Meraih Ketakwaan

Celaan dalam Al-Qur'an dan hadis terhadap harta serta dunia bukan berarti bahwa harta itu sendiri merupakan sesuatu yang buruk. Yang tercela adalah kecintaan berlebihan terhadapnya hingga melalaikan manusia dari mengingat Allah dan menunaikan kewajiban atas harta yang dimiliki.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS At-Taubah: 34).

Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan bahwa harta bukanlah sesuatu yang tercela pada dirinya sendiri. Harta menjadi masalah apabila menghalangi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, orang kaya yang tetap taat dan menggunakan hartanya untuk kebaikan dapat memiliki kedudukan mulia. Sebaliknya, kemiskinan tidak otomatis menjadikan seseorang lebih dekat kepada Allah apabila keadaan tersebut justru membuatnya lalai dari ibadah.

Al-Qur'an bahkan memuji orang-orang yang memiliki kegiatan perdagangan tetapi tidak membiarkan kesibukan tersebut melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat.” (QS An-Nur: 37).

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang pengusaha atau pedagang tetap dapat menjalankan aktivitas ekonominya tanpa mengabaikan kewajiban agama.

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa seorang pedagang dianjurkan tidak membiarkan usahanya menghalangi pelaksanaan kewajiban. Ketika waktu salat fardu tiba, ia hendaknya meninggalkan aktivitas perdagangan untuk menunaikan salat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyebut dua golongan yang patut menjadi teladan: seseorang yang dianugerahi harta lalu menginfakkannya di jalan yang benar, serta seseorang yang dianugerahi ilmu kemudian mengamalkan dan mengajarkannya.

Dalam hadis tentang Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah mendoakan agar Allah memperbanyak harta dan keturunannya serta memberikan keberkahan atas keduanya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa banyak harta dan keturunan dapat menjadi nikmat ketika disertai keberkahan dan tidak melalaikan pemiliknya dari ketaatan.

Hadis lainnya menceritakan para sahabat yang hidup sederhana dan mengeluhkan keterbatasan harta mereka. Mereka melihat sahabat-sahabat yang berkecukupan dapat melakukan lebih banyak amal melalui kekayaan, seperti berhaji, berumrah, berjihad, dan bersedekah.

Rasulullah tidak mengingkari keutamaan penggunaan harta tersebut untuk kebaikan. Dengan demikian, kekayaan dapat menjadi sarana memperoleh pahala apabila hak-haknya ditunaikan sesuai tuntunan agama.

Kaya atau Miskin, Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang lebih utama di sisi Allah: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar.

Kedua pendapat tersebut dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Namun, sejumlah ulama memilih pandangan yang menggabungkan keduanya, yakni keutamaan seseorang ditentukan oleh tingkat keimanan dan ketakwaannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13).

Berdasarkan prinsip tersebut, orang kaya yang bersyukur dan menggunakan hartanya untuk kebaikan dapat lebih utama daripada orang miskin yang kurang bersabar. Sebaliknya, orang miskin yang memiliki ketakwaan lebih tinggi dapat lebih utama daripada orang kaya yang kurang bersyukur.

Pandangan ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, dan Ibnu Muflih.

Dengan demikian, keadaan kaya maupun miskin bukanlah satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menjalani keadaan tersebut dengan iman, syukur, sabar, dan takwa.

Teladan Para Ulama Salaf dalam Memanfaatkan Harta

Generasi salaf memberikan banyak contoh tentang bagaimana kekayaan dapat digunakan untuk meraih rida Allah tanpa menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

1. Utsman bin Affan radhiyallahu anhu

Utsman bin Affan dikenal sebagai sahabat yang kaya dan dermawan. Ia membeli sumur Rumah untuk menyediakan air bagi kaum Muslimin. Ia juga menyumbangkan hartanya untuk perluasan Masjid Nabawi dan membantu pembiayaan pasukan dalam Perang Tabuk.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa kekayaan dapat menjadi sarana memberikan manfaat luas kepada masyarakat dan mendukung kepentingan umat.

2. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu

Abdurrahman bin Auf merupakan sahabat yang dikenal kaya dan gemar bersedekah. Dalam riwayat yang dikutip dalam sumber tulisan, ia pernah menyedekahkan ribuan dinar serta membantu pembiayaan kebutuhan kendaraan untuk kepentingan perjuangan di jalan Allah.

Kekayaan yang diperolehnya melalui perdagangan tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membantu sesama dan mendukung kepentingan umat.

3. Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib rahimahullah

Ali bin Husain, yang dikenal dengan gelar Zainul Abidin, merupakan seorang tokoh dari kalangan tabiin yang tekun beribadah dan dikenal dermawan.

Ia sering memberikan makanan kepada orang-orang miskin di Madinah secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Dalam riwayat yang disebutkan dalam sumber, ia bahkan menanggung kebutuhan banyak keluarga miskin.

Kisah ini mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam bersedekah, tanpa harus mencari pujian atau pengakuan dari orang lain.

4. Yunus bin Ubaid rahimahullah

Yunus bin Ubaid dikenal sebagai pedagang kain yang jujur dan berhati-hati dalam urusan halal dan haram. Ia terbiasa menjelaskan kekurangan barang dagangannya kepada pembeli.

Dalam sebuah kisah, ketika mengetahui harga kain di daerah lain sedang naik sementara penjual yang bertransaksi dengannya belum mengetahui keadaan tersebut, Yunus memilih membatalkan transaksi dan mengembalikan uang pembeli.

Sikap ini menunjukkan bahwa keuntungan bukan satu-satunya tujuan perdagangan. Kejujuran dan menjaga hak orang lain juga merupakan bagian penting dari ketakwaan.

5. Abdurrahman bin Aban bin Utsman rahimahullah

Abdurrahman bin Aban dikenal sebagai tokoh yang menghimpun keutamaan agama, kemuliaan keluarga, dan kedudukan. Ia pernah membebaskan sejumlah budak dengan mengharapkan rida Allah.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana kekayaan dan kedudukan dapat digunakan untuk melakukan kebaikan serta membantu orang lain.

6. Abdullah bin Mubarak rahimahullah

Abdullah bin Mubarak merupakan ulama besar yang dikenal memiliki ilmu, kedermawanan, dan semangat berjihad. Ia juga menjalankan perdagangan dengan tujuan menjaga kehormatan diri dan menggunakan hasilnya untuk mendukung ketaatan kepada Allah.

Ia dikenal membantu orang miskin, membiayai kebutuhan orang yang menunaikan ibadah haji, serta mendukung para ulama ahli hadis agar dapat berkonsentrasi menyebarkan ilmu kepada umat.

Teladan Abdullah bin Mubarak menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dan pengembangan ilmu agama dapat berjalan beriringan. Harta bahkan dapat menjadi sarana penting untuk mendukung penyebaran ilmu dan kepentingan umat.

Menjadi Orang Kaya yang Zuhud

Zuhud bukan berarti seseorang harus hidup miskin, meninggalkan kekayaan, atau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan Allah. Zuhud juga bukan berarti menyia-nyiakan harta yang dimiliki.

Zuhud adalah sikap menggunakan harta sesuai dengan petunjuk Allah tanpa menjadikan kekayaan sebagai sesuatu yang menguasai hati. Seseorang tetap dapat bekerja, berdagang, dan mengembangkan usahanya, tetapi tidak membiarkan ambisi duniawi mengalahkan kewajiban agama.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan bahwa zuhud berkaitan dengan pendeknya angan-angan terhadap kehidupan dunia. Seseorang hendaknya menyadari keterbatasan umurnya dan tidak terus menunda kebaikan seolah-olah memiliki waktu yang tidak terbatas.

Sebagian ulama salaf juga menjelaskan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Zuhud berarti lebih yakin terhadap balasan Allah daripada apa yang dimiliki saat ini, serta lebih mengharapkan pahala ketika kehilangan sesuatu yang dicintai daripada sekadar mempertahankan kepemilikan tersebut.

Sikap ini menjadi salah satu pelajaran dari kehidupan para sahabat Rasulullah. Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu pernah menjelaskan bahwa para sahabat memiliki keutamaan karena lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.

Zuhud, dengan demikian, bukan diukur dari sedikit atau banyaknya harta, melainkan dari bagaimana seseorang menempatkan dunia dalam kehidupannya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya akan dihadapkan pada urusan yang tercerai-berai dan perasaan tidak pernah cukup. Sementara itu, orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan memperoleh kemudahan dalam urusannya dan kecukupan dalam hatinya.

Pesan ini bukan berarti seorang Muslim dilarang mencari kekayaan atau mengembangkan usaha. Sebaliknya, harta dapat menjadi nikmat yang besar apabila diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan untuk kebaikan.

Karena itu, setiap Muslim perlu menjaga keseimbangan antara ikhtiar mencari rezeki dan kewajiban kepada Allah. Kekayaan hendaknya menjadi sarana untuk beribadah, membantu sesama, menunaikan hak orang lain, dan mempersiapkan bekal kehidupan akhirat.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sifat zuhud dalam kehidupan dunia, kecintaan terhadap balasan yang kekal di akhirat, serta kemampuan menggunakan setiap nikmat sesuai dengan rida-Nya. Amin.(almanhaj)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Selasa 06 Oktober 2026
BSU 2026 Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja, Kapan Mulai Dicairkan?

Selasa 06 Oktober 2026
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Media Sosial Bergemuruh: King Indo Jadi King ASEAN

Jumat 02 Oktober 2026
Pawang Perkasa Bukan Sekadar Berkemah, Pramuka Bengkalis Didorong Berbakti dan Berkarya

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top