Minggu, 11 Oktober 2026

Breaking News

  • Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang   ●   
  • Demi Anak Bisa Bermain, Induk Orang Utan Rela Menempuh Perjalanan Lebih Jauh   ●   
  • Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah   ●   
  • Perdana, 41 Perangkat Daerah Tampilkan Wajah Pelayanan di Pawai HUT ke-27 Siak   ●   
  • Karnaval Antar Perangkat Daerah, Dinas Kominfo Siak Bawa Pesan Keamanan Digital Lewat Teatrika   ●   
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang
Minggu 11 Oktober 2026, 14:47 WIB

MELIHAT kehidupan orang lain yang tampak lebih berkecukupan kerap memunculkan rasa iri dan ketidakpuasan. Jika dibiarkan, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat seseorang sulit mensyukuri nikmat yang telah dimilikinya.

Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup, rezeki, dan ujian yang berbeda. Ada yang memperoleh kelapangan harta, jabatan, dan popularitas. Ada pula yang dikaruniai keluarga harmonis, kesehatan, serta kehidupan sederhana yang penuh ketenangan.

Dalam perspektif Islam, perbedaan tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menjadikan pencapaian duniawi orang lain sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Seorang Muslim dianjurkan untuk mengenali nikmat yang telah diterimanya, bersyukur, dan tetap berusaha memperbaiki kehidupannya.

Al-Baghawi rahimahullah mengingatkan tentang dampak buruk memandang apa yang dimiliki orang lain hingga melupakan karunia sendiri.

“Barangsiapa yang tidak merasa mulia dengan kemuliaan dari Allah, maka ia akan memutuskan dirinya sendiri dalam kerugian. Barangsiapa yang mengikuti pandangannya terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka akan semakin bertambah kesedihannya.”

Kutipan tersebut tercantum dalam Tafsir Al-Baghawi, jilid 3, halaman 281, Dar Ihya’ At-Turats.

Rasulullah Mengajarkan agar Tidak Meremehkan Nikmat

Islam memberikan pedoman untuk menjaga hati dari kebiasaan membandingkan kehidupan dunia. Rasulullah SAW bersabda:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah kalian melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”

(HR. Muslim, no. 2963).

Hadis tersebut mengajarkan pentingnya menjaga perspektif dalam memandang kehidupan. Ketika seseorang terus-menerus memperhatikan kelebihan yang dimiliki orang lain, nikmat yang ada pada dirinya sendiri bisa terasa kecil.

Sebaliknya, menyadari bahwa masih banyak orang yang menghadapi keterbatasan dapat membantu menumbuhkan rasa syukur. Sikap ini bukan berarti seseorang harus berhenti berusaha atau mengabaikan kesulitan yang dihadapi, melainkan belajar menghargai apa yang telah dimiliki sembari terus memperbaiki keadaan.

Kebahagiaan pun tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta. Ketenangan batin, hubungan keluarga yang baik, kesehatan, dan keimanan juga merupakan hal yang patut disyukuri.

Dunia Bukan Ukuran Cinta Allah

Kekayaan dan kedudukan tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Dalam sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, disebutkan:

“Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang yang disenangi dan orang yang tidak disukai. Tidaklah memberikan karunia iman kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Apabila Allah mencintai seorang hamba, niscaya Allah memberinya karunia iman.”

Perkataan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, nomor 34545, dan dinyatakan sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad.

Pesan yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kelimpahan materi tidak otomatis menjadi ukuran kedekatan seseorang dengan Allah. Karena itu, manusia tidak sepatutnya menilai kemuliaan dirinya ataupun orang lain hanya berdasarkan kekayaan dan pencapaian duniawi.

Al-Qur'an juga mengingatkan agar manusia tidak terpukau secara berlebihan oleh kesenangan dunia yang diberikan kepada orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Surah Taha ayat 131:

“Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir). Itu hanyalah bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki dari Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Ayat ini mengingatkan bahwa kesenangan dunia bersifat sementara dan dapat menjadi bagian dari ujian kehidupan. Oleh sebab itu, seorang Muslim diajak untuk tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan utama, melainkan tetap memperhatikan kualitas iman dan amalnya.

Fokus pada Nikmat yang Telah Diberikan

Rasa iri dapat membuat seseorang terus memikirkan apa yang belum dimilikinya hingga melupakan berbagai karunia yang sudah ada. Padahal, Islam mengajarkan bahwa rezeki manusia memiliki ketentuan dan setiap orang menjalani ujian yang berbeda.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zukhruf ayat 32:

“Kamilah yang telah membagi di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ini.”

Perbedaan kondisi kehidupan tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan diri sendiri ataupun memandang orang lain dengan kebencian. Ada orang yang diuji dengan kelapangan, ada pula yang menghadapi keterbatasan. Setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk berbuat baik dan menjalani kehidupannya dengan penuh tanggung jawab.

Selain itu, kehidupan orang lain yang terlihat menyenangkan belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan yang mereka hadapi. Perjuangan, tanggung jawab, dan kesulitan di balik pencapaian seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.

Karena itu, membandingkan kehidupan hanya berdasarkan apa yang tampak dapat menimbulkan penilaian yang tidak utuh. Lebih bermanfaat jika perhatian diarahkan pada hal-hal yang bisa diperbaiki dalam kehidupan sendiri.

Bersyukur bukan berarti menyerah pada keadaan. Rasa syukur justru dapat berjalan beriringan dengan ikhtiar untuk meningkatkan kesejahteraan, menuntut ilmu, bekerja lebih baik, dan membantu sesama.

Belajar Merasa Cukup dari Doa Rasulullah

Salah satu teladan tentang kesederhanaan dapat dilihat dari doa Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam hadis sahih.

“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar kecukupan.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Doa tersebut mengandung pelajaran tentang nilai kecukupan. Kehidupan yang baik tidak selalu harus ditandai dengan kepemilikan berlimpah, tetapi juga dapat tercermin dari kemampuan memenuhi kebutuhan, menjalani hidup dengan baik, dan tidak diperbudak keinginan yang terus bertambah.

Sikap merasa cukup juga bukan alasan untuk menghindari kerja keras. Seseorang tetap dapat memiliki cita-cita dan berupaya mencapai kehidupan yang lebih baik tanpa harus merasa rendah diri ketika melihat pencapaian orang lain.

Al-Qur'an turut menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Ayat tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya syukur dalam kehidupan seorang Muslim.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki perjalanan dan ujian masing-masing. Daripada terus membandingkan rezeki, lebih baik mengenali karunia yang telah diterima, menjaga hati dari iri, dan tetap berusaha memperbaiki kehidupan.

Sebab, ketenangan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dengan kemampuan menghargai nikmat, menjalani kehidupan secara bijaksana, dan memelihara rasa syukur kepada Allah SWT. (klikmu)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Selasa 06 Oktober 2026
BSU 2026 Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja, Kapan Mulai Dicairkan?

Selasa 06 Oktober 2026
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Media Sosial Bergemuruh: King Indo Jadi King ASEAN

Jumat 02 Oktober 2026
Pawang Perkasa Bukan Sekadar Berkemah, Pramuka Bengkalis Didorong Berbakti dan Berkarya

Kamis 01 Oktober 2026
Pemerintah Siapkan Subsidi Upah Rp300 Ribu per Bulan untuk 13,3 Juta Pekerja

Rabu 30 September 2026
Kasmarni: Perang Melawan Karhutla Dimulai Sebelum Api Menyala

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top