JAKARTA - Rumah selama ini kerap dipandang sebagai aset sekaligus bentuk kekayaan bagi pemiliknya. Namun, dalam kondisi tertentu, rumah tidak selalu memberikan keuntungan finansial dan justru dapat menjadi beban.
Perencana keuangan Andy Nugroho menjelaskan bahwa rumah memang merupakan aset, tetapi sifatnya dapat berbeda, yakni menjadi aset produktif atau justru aset yang membebani keuangan pemilik.
Menurutnya, rumah dapat disebut aset produktif apabila mampu memberikan keuntungan finansial kepada pemiliknya. Sebaliknya, rumah dapat menjadi beban apabila tidak menghasilkan pemasukan, sementara pemilik harus terus mengeluarkan biaya untuk mempertahankannya.
“Misalnya rumah kita tempati sendiri, kan kita bayar cicilannya tiap bulan sampai masa tenornya habis. Ketika kita nggak dapat apa-apa dari rumah ini dan kita keluarkan terus uang untuk nyicilnya tiap bulan, dia akan menjadi beban,” kata Andy kepada detikProperti, Senin (5/10/2026).
Beban finansial tersebut tidak hanya berasal dari cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pemilik juga harus memperhitungkan berbagai biaya lain, seperti perawatan rumah, utilitas, iuran pengelolaan lingkungan (IPL), serta pajak tahunan.
Namun, kondisi berbeda terjadi apabila rumah dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan. Menurut Andy, properti dapat memberikan keuntungan apabila dijual kembali, disewakan, atau digunakan sebagai tempat usaha.
“Ketika rumah ini bisa memberikan stream income kepada pemiliknya, ya maka dia akan menjadi aset investasi,” ujarnya.
Rumah Tetap Dinilai sebagai Aset
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perencana Keuangan IARFC Indonesia Aidil Akbar Madjid memiliki pandangan bahwa rumah yang ditempati sendiri tetap merupakan aset.
Ia menilai nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu. Karena itu, rumah tinggal tetap memiliki nilai ekonomis bagi pemiliknya.
“Rumah tinggal itu jelas-jelas aset. Kalau misalnya nggak tinggal di rumah, opsinya apa? Kontrak (rumah) kan keluarkan uang yang sama (seperti nyicil rumah),” kata Aidil.
Aidil menjelaskan, pembayaran cicilan KPR setiap bulan pada akhirnya menghasilkan kepemilikan atas sebuah rumah. Hal tersebut berbeda dengan biaya sewa rumah yang menurutnya tidak menghasilkan kepemilikan atas aset bernilai ekonomis.
Meski demikian, rumah tetap dapat berubah menjadi beban apabila pemilik tidak mampu memenuhi kewajiban cicilannya. Kondisi tersebut salah satunya dapat terjadi ketika seseorang membeli rumah dengan harga yang berada di luar kemampuan finansialnya.
“(Rumah menjadi) beban kalau dia (pemilik) memaksakan beli rumah di luar kemampuan dia membayar cicilan,” tuturnya. (detik)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Gaya Hidup |



01
02
03
04
05
