Tokoh masyarakat Riau sekaligus Koordinator Gerakan Masyarakat Keadilan Riau (GMKR), Edy Natar.PEKANBARU - Dugaan praktik penimbunan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan di Riau. Tokoh masyarakat Riau sekaligus Koordinator Gerakan Masyarakat Keadilan Riau (GMKR), Edy Natar, mengaku telah mengantongi informasi mengenai sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat penyimpanan BBM di beberapa wilayah.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di Kelurahan Tenayan Industri, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Edy bersama sejumlah pihak melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi tersebut pada Minggu (4/10/2026) dini hari.
Sidak itu melibatkan jajaran Polsek Tenayan Raya, lurah, Bhabinkamtibmas, Lembaga Laskar Melayu Bersatu (LLMB) Gema, GMKR serta sejumlah perwakilan organisasi masyarakat.
Edy mengatakan, pemantauan terhadap lokasi tersebut telah dilakukan sejak siang hingga dini hari. Dari pemantauan itu, ia menduga terdapat aktivitas penyimpanan BBM di lokasi tersebut.
"Kami sejak pukul 13.00 sampai dini hari ini memang menduga di sini terjadi tempat penimbunan," kata Edy.
Menurutnya, dugaan tersebut semakin menguat setelah pemilik lokasi disebut mengakui adanya aktivitas penyimpanan BBM.
Edy menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum. Ia sebelumnya juga telah mendorong pembentukan satuan tugas (Satgas) khusus untuk menangani dugaan penimbunan dan penyalahgunaan BBM di Riau.
Ia menyebut temuan di Tenayan Industri menjadi salah satu hal yang menurutnya perlu ditindaklanjuti.
"Kita sudah sampaikan kemarin pada saat pertemuan di DPRD bahwa kita menyarankan untuk dibentuk Satgas. Tiba-tiba dikatakan, mana buktinya. Sekarang buktinya, di tempat kita ini tempat penimbunan," ujarnya.
Klaim Kantongi Informasi Sejumlah Lokasi
Edy mengatakan, persoalan tersebut menurutnya tidak hanya terjadi di Tenayan Raya. Ia mengaku memiliki informasi mengenai sejumlah lokasi lain yang diduga berkaitan dengan aktivitas penimbunan BBM.
Beberapa wilayah yang disebutnya antara lain Rumbai, Minas dan Perawang.
"Kalau teman-teman masih tidak percaya, nanti kita ke Rumbai, kita ke Minas, kita ke mana. Saya sudah punya semua. Perawang sudah punya," katanya.
Edy menyatakan akan mendatangi lokasi-lokasi yang dimaksud apabila tidak ada langkah konkret dari pemerintah maupun aparat penegak hukum.
"Nanti setelah ini semua titik itu kita masuki. Oknum siapa yang ada di sana kita sudah tahu. Oknum siapa pemiliknya itu kita sudah tahu," tegasnya.
Ia meminta dugaan penimbunan BBM tidak dianggap sebagai persoalan sepele. Menurut Edy, apabila praktik tersebut benar terjadi dan dibiarkan, masyarakat berpotensi menjadi pihak yang dirugikan, khususnya jika berdampak terhadap ketersediaan BBM.
Kaitkan dengan Dugaan Upaya Ciptakan Keresahan
Selain menyoroti dugaan penimbunan, Edy juga menyampaikan dugaan lain mengenai kemungkinan adanya pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan persoalan BBM untuk menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Ia bahkan mengaitkan kondisi tersebut dengan upaya membangun persepsi negatif terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Saya menduga ada upaya untuk menjatuhkan Presiden Prabowo. Beliau sibuk sekarang untuk mengurangi oligarki. Ketertiban di Riau ini ada kelompok tertentu yang berupaya untuk membuat suatu situasi kacau, dibikinlah kelangkaan bahan bakar minyak," ujarnya.
Menurut Edy, apabila kelangkaan BBM sampai terjadi, kondisi tersebut dapat memunculkan persepsi di masyarakat bahwa pemerintah tidak mampu menangani persoalan bahan bakar.
"Akhirnya masyarakat menilai Pak Prabowo tidak mampu memimpin. Ini saya menduga sampai ke sana," katanya.
Atas dasar itu, Edy meminta pemerintah dan aparat penegak hukum tidak mengabaikan informasi mengenai dugaan penimbunan BBM di Riau.
Ia juga menegaskan akan menyampaikan informasi yang dimilikinya mengenai sejumlah lokasi yang menurutnya perlu ditindaklanjuti.
"Maka itu, jangan bermain-main. Saya akan sampaikan apa adanya," tegas Edy. (halloriau)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Hukrim |



01
02
03
04
05
