Jumat, 25 September 2026

Breaking News

  • Dukung Swasembada Pangan, Polsek Senapelan Turun Langsung Tanam Jagung   ●   
  • Gerakan Riau Cerah Presisi, Polsek Binawidya Ajak Warga Hijaukan Sidomulyo Barat   ●   
  • Menjaga Motif yang Hampir Hilang, Kisah Nanda dan Iswandi Merawat Songket Minangkabau   ●   
  • Kelola Kebutuhan Kas secara Akurat, BRK Syariah Raih Penghargaan BI Riau   ●   
  • Pendapatan Riau Diproyeksi Turun Rp125,7 Miliar, Tekanan Fiskal Membayangi APBD Perubahan 2026   ●   
Menjaga Motif yang Hampir Hilang, Kisah Nanda dan Iswandi Merawat Songket Minangkabau
Jumat 25 September 2026, 11:35 WIB
Nanda Wirawan mengelos benang untuk kebutuhan pembuatan songket di Studio Wastra Pinankabu, Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

BUKITTINGGI - Bagi Nanda Wirawan (44) dan suaminya, Iswandi Bagindo Parpatiah (50), songket Minangkabau bukan sekadar kain dengan motif indah. Di balik jalinan benangnya terdapat pengetahuan tentang sejarah, adat, kedudukan seseorang, hingga pandangan hidup masyarakat.

Karena itu, keduanya memilih menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari, mendokumentasikan, dan merekonstruksi berbagai motif songket Minangkabau yang mulai jarang dikenal masyarakat.

“Kegiatan ini sesuatu yang kami hidupi, bukan menghidupi kami,” kata Nanda saat menceritakan perjalanan hidupnya bersama Iswandi.

Pilihan tersebut bukan keputusan yang mudah secara ekonomi. Nanda merupakan lulusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas. Pada 2006, ia sempat mendapat tawaran mengikuti program junior engineer di sebuah perusahaan gas di Kalimantan.

Jalur tersebut sebenarnya menawarkan arah karier yang lebih jelas. Namun, Nanda justru memilih menekuni songket.

Ia kemudian mempelajari konstruksi kain, menelusuri motif lama, menggali cerita di balik simbol, serta mendokumentasikan songket dari berbagai nagari di Sumatera Barat.

“Umur hidup saya habis, dan dikorbankan untuk ini,” ujar Nanda kepada Kompas.com di Bukittinggi, Kamis (24/9/2026).

Pilihan Nanda kemudian menjadi perjalanan bersama Iswandi, lulusan seni rupa Universitas Negeri Padang. Mereka mendatangi pemuka adat, membaca berbagai literatur, mencari kain lama, serta menemui orang-orang yang masih menyimpan pengetahuan tentang motif-motif tradisional.

Tujuan mereka bukan sekadar menghasilkan songket baru. Lebih dari itu, mereka ingin mengembalikan pengetahuan yang hampir terputus kepada masyarakat yang menjadi pewarisnya.

Berawal dari Penelitian Orangtua

Nanda menegaskan, upaya tersebut bukanlah sesuatu yang dimulai olehnya dan Iswandi. Penelitian tentang songket sebelumnya telah dilakukan oleh kedua orangtuanya, Aldawimar dan Nina Rianti.

Keduanya merupakan seniman yang kemudian tertarik meneliti kain tradisional Minangkabau.

Pada awal 2000-an, mereka melihat songket yang beredar di pasaran cenderung semakin seragam. Tiga nama yang paling umum dikenal adalah songket Kubang, Silungkang, dan Pandai Sikek.

Namun, penelusuran terhadap kain-kain lama menunjukkan keragaman yang jauh lebih luas.

Kain-kain tersebut ditemukan dalam koleksi Museum Adityawarman, museum di luar negeri, keluarga, kolektor, hingga toko barang antik. Motifnya berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Di antaranya berasal dari Canduang, Koto Gadang, Muaro Labuah, Batusangkar, Tanjung Sungayang, Limo Kaum, Payakumbuh, hingga Pariangan.

“Jujur bukan kami pionirnya. Awalnya dimulai oleh orangtua saya,” kata Nanda.

Sejak sekitar 2006, Nanda mulai terlibat dalam pekerjaan tersebut. Awalnya, ia hanya mengikuti kegiatan orangtuanya. Namun, semakin lama mendalami songket, ia menyadari latar belakang teknik yang dimilikinya justru memiliki keterkaitan dengan proses pembuatan kain tradisional tersebut.

Latar Teknik di Balik Kerumitan Songket

Bagi Nanda, membuat songket bukan sekadar pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tangan. Di balik susunan benang terdapat perhitungan teknis yang kompleks.

Ia harus memahami tingkat kerapatan kain, ukuran serat, jumlah lubang suri, hingga konstruksi motif.

Nanda mencontohkan tingkat kehalusan 80 suri. Dalam lima sentimeter kain terdapat 80 lubang suri dengan ukuran benang tertentu. Kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan konstruksi kain.

“Latar belakang teknik itu sangat match dengan songket,” katanya.

Dengan pengetahuan tersebut, Nanda membaca kain lama seperti membaca sebuah rancangan. Setiap baris dihitung, struktur diperhatikan, kemudian diterjemahkan kembali menjadi pola yang dapat ditenun.

Pada kain Koto Gadang, misalnya, satu motif dapat mencapai ratusan baris tenunan. Nanda menyebut sebuah kain bisa memiliki sekitar 600 baris motif.

Jumlah tersebut jauh berbeda dengan kain yang umum beredar di pasaran, yang biasanya menggunakan puluhan baris dengan pola yang lebih banyak diulang.

Salah satu motif rumit yang mereka rekonstruksi adalah Kaluak Paku. Motif tersebut tidak hanya berupa ornamen, tetapi memiliki struktur desain yang rapat dan detail.

Semakin tua kain yang ditemukan, semakin kompleks pula proses untuk merekonstruksinya.

Satu kain biasanya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. Untuk karya dengan tingkat kerumitan tinggi, pengerjaannya bahkan dapat mencapai enam bulan.

Motif Songket Menyimpan Cerita

Penelitian Nanda dan Iswandi tidak berhenti pada bentuk visual. Mereka juga melihat motif sebagai bagian dari bahasa budaya masyarakat Minangkabau.

Menurut Nanda, masyarakat Minangkabau pada masa lalu tidak hanya menyampaikan nilai dan ajaran melalui bahasa verbal. Nilai, aturan, keseimbangan, dan filosofi juga disampaikan melalui bahasa rupa, termasuk motif pada kain.

Ia mencontohkan motif belah kacang pada kain yang dikenakan seorang datuk. Menurut Nanda, motif tersebut berkaitan dengan simbol keselarasan dan keseimbangan yang harus dimiliki seorang pemimpin adat.

Karena itu, sebuah motif tidak dapat begitu saja dipindahkan ke kain lain tanpa memahami asal-usul dan fungsi penggunaannya.

Nanda dan Iswandi harus bertanya kepada pemuka adat, menelusuri cerita dari keluarga yang masih menyimpan kain tua, kemudian membandingkannya dengan literatur dan temuan lainnya.

Iswandi menggambarkan proses tersebut seperti menyusun potongan mozaik.

“Selalu ada cerita di setiap motif,” katanya.

Cerita tersebut dapat berkaitan dengan sebuah peristiwa, aturan adat, maupun orang-orang yang memiliki hak untuk mengenakan kain tertentu.

Dari proses panjang itu, Nanda dan Iswandi memperkirakan sekitar 25 motif dari sejumlah nagari telah mereka revitalisasi.

Bagi keduanya, jumlah tersebut masih jauh dari cukup. Keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya menjadi tantangan tersendiri.

Namun, mereka memiliki alasan untuk terus melakukannya.

“Kalau tidak ada yang mencatat, ini berbahaya untuk generasi ke depan,” ujar Nanda.

Mendirikan Studio Wastra Pinankabu

Pada 2013, Nanda dan Iswandi mendirikan Studio Wastra Pinankabu di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam.

Studio tersebut menjadi tempat untuk melakukan penelitian sekaligus menghidupkan kembali kain-kain lama. Pada masa awal, enam penenun mengerjakan motif hasil revitalisasi.

Produksinya berlangsung lambat karena setiap kain membutuhkan waktu pengerjaan yang panjang. Dalam tiga bulan, paling banyak sekitar tujuh kain yang dapat diselesaikan.

Untuk karya yang sangat rumit, pengerjaannya dapat berlangsung hingga enam bulan.

Salah satu karya yang dianggap paling kompleks adalah Salempang Rajo Sungai Pagu, yang terinspirasi dari kain lama Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan.

Kain tersebut memiliki beragam motif. Nanda dan Iswandi berupaya mengembalikan struktur aslinya berdasarkan penelitian terhadap kain tua yang mereka temukan.

Karya tersebut kemudian dijual sekitar Rp21 juta kepada kolektor dan museum. Namun, bagi keduanya, penjualan kain bukan tujuan akhir.

Songket Belum Sepenuhnya Menghidupi Penenun

Di balik nilai sebuah kain yang dapat mencapai puluhan juta rupiah, kondisi ekonomi para penenun masih menjadi perhatian.

Nanda menyebut penenun bisa menerima penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Ia berharap pendapatan mereka kelak dapat meningkat hingga Rp5 juta.

Persoalannya, proses produksi yang berlangsung berbulan-bulan membuat pemasukan dari songket tidak selalu mampu menopang kegiatan secara keseluruhan.

Karena itu, Nanda dan Iswandi memiliki usaha lain. Iswandi menjalankan usaha kulit manis, sedangkan Nanda membuat rendang.

Penghasilan dari usaha tersebut digunakan untuk membantu membayar penenun sekaligus membiayai kegiatan revitalisasi songket.

“Kegiatan ini sesuatu yang kami hidupi, bukan menghidupi kami,” kata Nanda.

Pernyataan tersebut menggambarkan pilihan hidup keduanya. Mereka tetap mempertahankan kegiatan yang hingga kini belum sepenuhnya mampu menjadi sumber penghidupan utama.

Dari Nagari hingga Museum di Luar Negeri

Meski secara ekonomi tidak mudah, karya yang mereka hasilkan justru telah menembus berbagai negara.

Karya Studio Wastra Pinankabu menjadi koleksi sejumlah kolektor dan museum di luar negeri. Delapan helai karya mereka, berdasarkan data yang disampaikan, telah menjadi bagian dari koleksi Museum de Young di San Francisco, Amerika Serikat.

Karya mereka juga dikoleksi kolektor di Jepang dan Serbia. Bahkan, terdapat permintaan dari lingkungan kerajaan Malaysia.

Pengakuan juga datang dari UNESCO. Pada 2012, mereka memperoleh Award of Excellence for Handicrafts dari UNESCO untuk karya tenun yang dihasilkan.

Namun, berbagai pencapaian tersebut tidak serta-merta membuat pekerjaan mereka menjadi lebih mudah.

Bagi Nanda dan Iswandi, perhatian dari luar justru menunjukkan bahwa kain tradisional yang dianggap tua dan rumit masih memiliki nilai di berbagai tempat.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana nilai tersebut dapat kembali memberikan manfaat kepada masyarakat tempat pengetahuan songket itu tumbuh.

Membawa Songket Minangkabau ke Meksiko

Pada 2025, Studio Wastra Pinankabu mendapat kesempatan untuk mengikuti Original, ajang seni tekstil dan kerajinan yang digelar di Tijuana, Meksiko.

Pada 13–16 November 2025, mereka mewakili Indonesia dalam kegiatan tersebut. Studio mereka dipilih untuk menampilkan karya revitalisasi songket Minangkabau sekaligus membawa karya sejumlah perajin dari Sumatera Barat.

Di Meksiko, Nanda dan Iswandi tidak hanya membawa kain. Mereka juga mempresentasikan hasil penelitian mengenai songket Minangkabau.

Film dokumenter Threads of Memory, Reviving Minangkabau Songket turut diputar dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Pengalaman itu memperlihatkan kepada keduanya bahwa kebudayaan tradisional dapat dibawa ke panggung internasional tanpa harus kehilangan akar daerah asalnya.

Namun, Nanda tidak ingin pencapaian internasional hanya berhenti sebagai kebanggaan.

Baginya, perhatian tersebut harus dapat membantu meningkatkan kehidupan penenun sekaligus memperkenalkan identitas setiap nagari.

Karena itu, perjalanan mereka kemudian kembali diarahkan kepada masyarakat.

Mengembalikan Pengetahuan kepada Penenun

Pada awalnya, Nanda dan Iswandi fokus mencari, mendokumentasikan, dan merekonstruksi motif. Setelah itu, mereka memproduksinya.

Namun, muncul pertanyaan mengenai keberlanjutan proses tersebut.

“Kalau kain-kain ini kami revitalisasi dan hanya kami simpan sendiri, sampai kapan kami kuat bertahan?” kata Iswandi.

Pertanyaan tersebut mendorong mereka untuk mengembalikan pengetahuan yang telah dikumpulkan kepada penenun dan nagari asalnya.

Pada 2022, mereka menjalankan program revitalisasi Songket Canduang dengan dukungan Dana Indonesiana. Program tersebut kemudian dilanjutkan melalui workshop tenun pada 2023.

Setelah Canduang, mereka mulai menggarap Luhak Nan Bungsu di Payakumbuh. Di sejumlah sentra, aktivitas menenun masih berlangsung. Namun, pengetahuan mengenai motif khas daerah tidak selalu ikut bertahan.

Mereka menemukan penenun yang lebih memilih motif populer di pasaran karena lebih mudah dijual.

Bagi Nanda, kondisi tersebut justru menunjukkan pentingnya mempertahankan identitas lokal. Setiap nagari, menurutnya, tidak harus menghasilkan kain yang sama. Perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan.

Pengetahuan yang Terancam Hilang

Kondisi tersebut terlihat di Balai Cacang, Payakumbuh. Menurut Nanda dan Iswandi, terdapat pasangan suami istri yang menjadi penenun terakhir Songket Luhak Nan Bungsu. Keduanya telah berusia sekitar 60 tahun.

Jika tidak ada generasi berikutnya yang belajar kepada mereka, pengetahuan mengenai pembuatan songket tersebut berpotensi terhenti.

“Kalau mereka berhenti bisa punah ini,” kata Iswandi.

Bagi mereka, keberadaan kain lama tidak otomatis berarti pengetahuan membuat kain tersebut masih hidup.

Kain dapat disimpan di museum atau koleksi pribadi. Namun, jika tidak ada lagi orang yang mampu membuatnya, tradisi di balik kain tersebut tetap berisiko terputus.

Antara Pelestarian dan Kepentingan Komersial

Nanda juga menyoroti persoalan lain, yakni posisi karya budaya lokal ketika berhadapan dengan kepentingan komersial.

Ia menilai terdapat praktik yang membuat hasil karya penenun dibeli dengan harga rendah, kemudian dijual kembali di luar negeri dengan harga jauh lebih tinggi.

“Dimonopoli hasil karya penenun. Dibeli dengan harga murah, lalu dijual di luar negeri dengan harga 10 kali lipat,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi kegelisahan Nanda terhadap posisi penenun yang dinilai masih lemah dalam rantai pasar.

Menurutnya, masyarakat yang menjadi pemilik tradisi perlu tetap memperoleh manfaat dari kekayaan budaya yang mereka warisi.

Di sisi lain, ia tidak ingin songket hanya menjadi bagian dari masa lalu. Budaya, menurutnya, tetap harus beradaptasi agar dapat hadir dalam kehidupan masa kini.

Pasar perlu dibuka, generasi muda perlu dilibatkan, dan teknologi dapat dimanfaatkan. Namun, pengetahuan yang membuat sebuah kain menjadi identitas sebuah nagari tetap harus dipertahankan.

Pilihan Hidup Nanda dan Iswandi

Nanda menyadari bahwa ada pilihan hidup yang secara ekonomi mungkin lebih aman. Ia pernah berada di depan pilihan tersebut ketika mendapat kesempatan berkarier sebagai engineer.

Namun, ia memilih songket. Iswandi kemudian menjalani pilihan yang sama.

Bagi keduanya, pilihan tersebut memang membutuhkan pengorbanan.

“Kalau bicara pengorbanan, ada nilai yang kita tuju dalam hidup. Bukan hanya materi semata,” ujar Nanda.

Ia ingin suatu hari nanti meninggalkan sesuatu yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Ia berharap generasi mendatang mengetahui bahwa leluhur mereka pernah meninggalkan pengetahuan yang kaya melalui kain dan songket.

“Setidaknya kalau ini berhasil, generasi selanjutnya tahu bahwa ternyata nenek moyang kita begitu agung nilai-nilai yang ditinggalkan melalui kain, songket,” katanya.

Bagi Nanda dan Iswandi, penghargaan UNESCO, koleksi museum, hingga pengalaman membawa songket ke Meksiko bukanlah akhir perjalanan.

Semua pencapaian tersebut justru memperlihatkan sejauh mana kain-kain yang mereka selamatkan telah berjalan dari nagari, masuk ke museum, melintasi berbagai negara, lalu kembali pada pertanyaan tentang keberlanjutan.

Siapa yang akan menenunnya setelah mereka berhenti?

Pertanyaan itulah yang membuat pekerjaan Nanda dan Iswandi belum selesai. Sebab, yang ingin mereka selamatkan bukan hanya sehelai kain, melainkan pengetahuan yang hidup di baliknya.

Mereka ingin memastikan pengetahuan tersebut tetap memiliki pemilik, penenun, dan generasi penerus. (kompas)




Editor : Tim
Kategori : Daerah
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Selasa 22 September 2026
Gaji Bukan Segalanya, 12 Kebiasaan Ini Bisa Bantu Wujudkan Financial Freedom

Jumat 18 September 2026
Jangan Jadikan Takdir Alasan Bermalas-malasan, Takdir Bukan Alasan Berhenti Berusaha

Kamis 17 September 2026
2027 Punya 18 Hari Libur Nasional, Ini Daftar Lengkapnya

Selasa 15 September 2026
TNI AL Sambangi Pesisir Bantan, Narkoba dan Abrasi Jadi Sorotan

Sabtu 12 September 2026
Catat, Ini Perkiraan Libur Hari Besar Islam Tahun 2027

Rabu 09 September 2026
Musyran VI Pramuka Bukit Batu, Edi Sakura Dorong Kepemimpinan yang Solid dan Bersinergi

Rabu 09 September 2026
Mulai Kehilangan Semangat? Ini Sejumlah Cara Sederhana Mengatasi Burnout

Senin 07 September 2026
Ikan atau Kucing, Apa yang Pertama Kamu Lihat? Begini Gambaran Sifatnya

Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top