JAKARTA - Berada di desil tinggi tidak otomatis berarti sebuah keluarga sudah mapan secara ekonomi.
Posisi desil menunjukkan letak kesejahteraan seseorang dibandingkan keluarga lain. Sementara kemapanan lebih berkaitan dengan berapa banyak uang yang tersisa setelah kebutuhan terpenuhi, aset yang dimiliki, serta kemampuan menghadapi pengeluaran tak terduga.
Perbedaan tersebut penting untuk memahami kondisi pekerja perkotaan yang secara statistik berada dalam kelompok kesejahteraan relatif tinggi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih harus menghitung pengeluaran hingga akhir bulan.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menjelaskan desil yang belakangan ramai dibicarakan masyarakat merupakan bagian dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Desil bukan semata-mata pengelompokan berdasarkan pendapatan atau pengeluaran. Dalam DTSEN, keluarga diperingkat berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif menggunakan sekitar 39 variabel sosial ekonomi.
Keluarga kemudian dibagi menjadi 10 kelompok, mulai dari desil 1 dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah hingga desil 10 yang paling tinggi.
Pemeringkatan menggunakan metode Proxy Means Test (PMT), dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik yang dapat diamati, seperti kondisi rumah, kepemilikan aset, listrik, sumber air, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan komposisi keluarga.
"Jadi tidak ada satu variabel, misalnya gaji, daya listrik, atau kepemilikan kendaraan—yang sendirian menentukan seseorang masuk desil tertentu," kata Adrian saat dihubungi Kompas.com, Senin (21/9/2026).
Karena itu, menurut Adrian, posisi desil tidak dapat diterjemahkan secara sederhana menjadi batas penghasilan tertentu.
Gaji Rp5 juta, Rp8 juta, atau Rp10 juta juga tidak otomatis dapat dipasangkan dengan desil tertentu. Desil pada dasarnya menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lain.
Sementara itu, rasa mapan lebih berkaitan dengan kondisi keuangan yang dimiliki setelah seluruh kebutuhan dibayarkan.
"Desil 9 atau 10 juga tidak otomatis berarti kaya raya," ujar dia.
Posisi Tinggi, tetapi Ruang Finansial Bisa Tipis
Adrian menjelaskan, posisi statistik dan pengalaman hidup seseorang dapat menunjukkan kondisi yang berbeda tanpa harus saling bertentangan.
Seseorang dapat berada di kelompok kesejahteraan relatif tinggi, tetapi tetap merasa penghasilannya pas-pasan karena tinggal di wilayah dengan biaya hidup tinggi, memiliki tanggungan keluarga, atau menghadapi kebutuhan rutin yang besar.
Untuk menggambarkan perbedaan tersebut, Adrian menggunakan distribusi pengeluaran per kapita dari Susenas sebagai ilustrasi.
Data tersebut tidak dapat disamakan dengan desil DTSEN, tetapi dapat membantu melihat posisi relatif pengeluaran masyarakat.
Berdasarkan pengolahan Susenas Maret 2025 yang ia sampaikan, batas bawah 10 persen teratas dalam distribusi pengeluaran per kapita berada di kisaran Rp2,8 juta per bulan.
Jika digunakan sebagai ilustrasi rumah tangga beranggotakan empat orang, angkanya sekitar Rp11 juta per bulan.
Namun, pengeluaran sebesar itu belum tentu membuat keluarga yang tinggal di Jakarta atau kawasan metropolitan merasa memiliki ruang keuangan yang longgar.
Setelah membayar tempat tinggal, makanan, transportasi, pendidikan anak, listrik, internet, dan kebutuhan lainnya, uang yang tersisa dapat kembali terbatas.
"Jadi perasaan pas-pasan dan posisi desil yang relatif tinggi tidak harus saling bertentangan," kata Adrian.
Menurut dia, terdapat jurang antara posisi statistik dan pengalaman hidup.
Posisi statistik berbicara mengenai peringkat relatif, sedangkan rasa aman ekonomi lebih banyak ditentukan oleh ruang finansial yang tersisa, aset, tabungan, utang, serta kemampuan menghadapi guncangan.
Tiga Hal untuk Melihat Kemapanan
Adrian menyebut sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan ketika menilai apakah seseorang sudah mapan secara ekonomi.
Pertama, surplus setelah kebutuhan dibayar. Dua keluarga dapat sama-sama berada dalam kelompok atas, tetapi kondisi keuangannya berbeda apabila satu keluarga hanya menyisakan 5 persen pendapatan untuk ditabung, sedangkan keluarga lain mampu menyisihkan 25-30 persen.
Kedua, perbedaan antara arus pengeluaran dan kekayaan. Pengeluaran bulanan merupakan flow, sedangkan rumah, tabungan, investasi, dan utang menggambarkan stock atau posisi kekayaan.
Rumah tangga yang mengeluarkan Rp15 juta per bulan tetapi masih mengontrak dan memiliki cicilan besar belum tentu lebih mapan dibandingkan keluarga yang mengeluarkan Rp10 juta, tetapi sudah mempunyai rumah lunas dan aset investasi.
Ketiga, jumlah anggota keluarga dan lokasi tempat tinggal. Pengeluaran yang sama dapat memiliki arti berbeda tergantung jumlah anggota keluarga dan wilayah tempat tinggal.
"Desil memberi tahu posisi relatif kita, kemapanan memberi tahu seberapa kuat fondasi ekonomi di balik posisi tersebut," ujar Adrian.
Gaji Rp7,8 Juta, tetapi Harus Dibagi untuk Keluarga
Gambaran tersebut terlihat pada kehidupan Rendy Junion (31), teknisi jaringan perusahaan telekomunikasi di Jakarta Selatan.
Ia berpenghasilan Rp7,8 juta per bulan dan tinggal bersama ibu serta adiknya. Rendy memperkirakan dirinya berada di desil 9.
Namun, angka tersebut tidak membuatnya merasa memiliki penghasilan yang longgar.
"Belum. Saya malah merasa gaji saya itu seperti punya banyak orang. Secara administrasi memang masuk ke rekening saya, tetapi sebagian sudah ada yang punya tujuan," kata Rendy saat dihubungi.
Setiap bulan, sekitar Rp1,5 juta diberikan untuk kebutuhan ibunya dan Rp1 juta untuk adiknya yang masih kuliah.
Setelah itu masih ada listrik, internet, belanja, kebutuhan rumah, transportasi, makan ketika bekerja, bensin, serta kebutuhan pribadi.
Menurut Rendy, setelah kebutuhan keluarga dan rumah tangga diperhitungkan, uang yang tersisa untuk kebutuhan lainnya sekitar Rp2 juta-Rp2,5 juta.
Ia juga masih membayar cicilan motor sekitar Rp1 juta per bulan.
Keinginan membeli rumah sendiri belum diwujudkan karena khawatir cicilan KPR akan semakin mempersempit ruang keuangannya.
"Saya sebenarnya ingin punya rumah sendiri, tetapi belum berani mengambil KPR. Kalau ditambah cicilan rumah, saya takut terlalu berat," ujar dia.
Rendy mengaku tidak merasa miskin karena kebutuhan dasar masih terpenuhi.
Namun, ia juga tidak merasa kaya karena aset yang dimiliki terbatas dan penghasilannya berhenti ketika ia tidak lagi bekerja.
Ia menargetkan memiliki tabungan untuk kebutuhan hidup selama enam bulan. Saat ini, jumlah tersebut belum tercapai karena tabungannya dapat kembali digunakan ketika ibu atau adiknya membutuhkan bantuan.
Konsumsi Belum Tentu Menjadi Kekayaan
Kondisi berbeda tetapi dengan persoalan serupa dialami Febiola Putri (34), pekerja customer service perusahaan e-commerce di Jakarta Barat.
Febiola berpenghasilan Rp5,8 juta per bulan. Ia menikah dan memiliki seorang anak berusia lima tahun.
Suaminya bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang tidak tetap. Ketika pekerjaan sedang ramai, penghasilannya dapat mencapai Rp3 juta-Rp4 juta per bulan. Namun, pada bulan tertentu hanya sedikit di atas Rp2 juta.
"Kalau melihat dari luar mungkin iya. Kami punya rumah kontrakan, anak sekolah, suami bekerja, saya bekerja," kata Febiola.
Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat keluarganya memiliki banyak uang yang bisa disimpan.
Kontrakan menghabiskan Rp1,8 juta per bulan. Kebutuhan sekolah dan anak sekitar Rp700.000-Rp1 juta.
Belanja rumah tangga sekitar Rp1,5 juta, sedangkan listrik, air, internet, dan kebutuhan lainnya dapat mencapai lebih dari Rp700.000.
Di luar pengeluaran rutin itu masih ada transportasi, bensin, obat, susu, gas, dan kebutuhan kecil lainnya.
"Sering. Bahkan yang paling terasa itu bukan satu pengeluaran besar. Yang kecil-kecil. Uang sekolah, beli susu, beli obat, ongkos, isi bensin, beli gas," ujar dia.
Dalam kondisi normal, Febiola hanya mampu menyisihkan sekitar Rp500.000.
Tabungan tersebut dapat kembali terpakai ketika anak sakit atau muncul kebutuhan keluarga.
Kekhawatiran terbesar Febiola justru berada pada masa depan anak. Saat anaknya baru berusia lima tahun, kebutuhan pendidikan sudah mulai terasa.
Ia membayangkan pengeluaran yang akan semakin besar ketika jenjang pendidikan anak meningkat.
"Saya dan suami enggak punya banyak aset. Jadi kami mengandalkan penghasilan bulanan," kata dia.
Desil Tidak Sama dengan Batas Gaji
Berdasarkan laman Badan Pusat Statistik (BPS), desil merupakan pengelompokan rumah tangga berdasarkan tingkat kesejahteraan yang dibagi menjadi 10 kelompok.
Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Setiap desil mencakup sekitar 10 persen rumah tangga dalam populasi.
Pembagian desil tidak semata-mata ditentukan dari besarnya pendapatan. Dalam pengukuran kesejahteraan, BPS menggunakan sejumlah indikator sosial dan ekonomi, antara lain kondisi perumahan, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.
Karena merupakan pemeringkatan relatif, desil tidak dapat langsung disamakan dengan batas gaji atau jumlah kekayaan tertentu. (kompas)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Ekonomi |



01
02
03
04
05
