Ponpes Gontor Ponorogo.
GONTOR - Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) genap berusia 100 tahun pada 20 September 2026. Satu abad perjalanan Gontor tidak lahir dalam waktu singkat, tetapi melalui rangkaian sejarah panjang yang berakar dari Pondok Tegalsari di Ponorogo sejak abad ke-18.
Dari Pondok Tegalsari yang pernah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Ponorogo, muncul cikal bakal Pondok Gontor. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut melalui tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi.
Berawal dari Pondok Tegalsari
Cikal bakal sejarah Gontor dapat ditelusuri hingga Pondok Tegalsari yang didirikan Kyai Ageng Hasan Bashari atau Kyai Besari pada paruh pertama abad ke-18.
Mengutip laman resmi Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Pondok Tegalsari berada di Desa Tegalsari, sekitar 10 kilometer sebelah selatan Ponorogo.
Pada masa kejayaannya, ribuan santri dari berbagai wilayah Jawa dan sekitarnya datang untuk menuntut ilmu. Besarnya jumlah santri kemudian turut membentuk kawasan Tegalsari dan desa-desa di sekitarnya menjadi lingkungan pondokan.
Sejumlah tokoh penting juga tercatat memiliki hubungan dengan Pondok Tegalsari, antara lain Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; pujangga Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito; serta tokoh pergerakan nasional H.O.S. Cokroaminoto.
Dalam perkembangannya, Pondok Tegalsari mengalami kemunduran. Pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri bernama Sulaiman Jamaluddin yang dikenal memiliki kemampuan menonjol dalam berbagai bidang.
Sulaiman Jamaluddin merupakan putra Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Setelah menyelesaikan pendidikan di Tegalsari, ia dipercaya Kyai Khalifah untuk membuka pesantren di Desa Gontor.
Gontor Lama Berdiri di Tengah Hutan
Pada masa itu, Gontor belum menjadi kawasan pesantren seperti sekarang. Wilayah tersebut masih berupa kawasan hutan yang relatif sepi dan dikenal sebagai tempat persembunyian berbagai kelompok.
Dengan membawa 40 santri yang dibekalkan Kyai Khalifah, Sulaiman Jamaluddin mulai merintis Pondok Gontor. Dari sinilah perjalanan Gontor Lama dimulai.
Pondok tersebut kemudian berkembang, terutama ketika kepemimpinan berlanjut kepada putra Sulaiman Jamaluddin, Kyai Archam Anom Besari. Santri datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk Pasundan.
Namun, memasuki generasi ketiga di bawah kepemimpinan Kyai Santoso Anom Besari, Gontor Lama mulai mengalami kemunduran. Aktivitas pendidikan dan pengajaran berkurang, salah satunya akibat persoalan kaderisasi. Jumlah santri pun terus menyusut.
Setelah Kyai Santoso wafat, tidak ada lagi anggota keluarga yang mampu meneruskan keberadaan pondok. Yang tersisa adalah Nyai Santoso bersama tujuh putra-putrinya, sebuah rumah sederhana, serta masjid tua peninggalan keluarga.
Nyai Santoso kemudian berupaya agar keberadaan Gontor tidak berakhir.
Tekad Menghidupkan Kembali Gontor
Nyai Santoso mempersiapkan anak-anaknya agar dapat melanjutkan perjuangan keluarga. Tiga putranya kemudian dikirim untuk menimba ilmu di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan.
Ketiga putra tersebut adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasyi. Ketiganya kelak dikenal sebagai Trimurti, tiga bersaudara yang menjadi pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1345 H dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi, pembukaan kembali Pondok Gontor dideklarasikan. Momentum tersebut menjadi salah satu tonggak berdirinya Gontor Baru.
Dalam mengembangkan Gontor Baru, Trimurti tidak hanya mempertahankan tradisi pesantren, tetapi juga mempelajari berbagai model pendidikan dari luar negeri.
Mereka mengkaji empat lembaga pendidikan, yakni Universitas Al-Azhar di Mesir, Pondok Syanggit di Mauritania, Universitas Muslim Aligarh di India, serta Santiniketan yang didirikan Rabindranath Tagore.
Berbagai model tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi dalam merancang sistem pendidikan Gontor yang memadukan sejumlah pendekatan pendidikan.
Gagasan tersebut juga mendapat pengaruh dari Kongres Umat Islam Indonesia di Surabaya pada 1926. Salah satu pengalaman yang menginspirasi KH Ahmad Sahal adalah persoalan kemampuan bahasa Arab dan Inggris ketika umat Islam Indonesia perlu berkomunikasi dalam forum internasional.
Dari pengalaman tersebut berkembang gagasan mengenai pentingnya pendidikan yang tidak hanya memberikan penguasaan ilmu agama, tetapi juga kemampuan bahasa dan wawasan yang lebih luas.
KMI Menjadi Tonggak Pendidikan Gontor
Perjalanan pendidikan Gontor terus berkembang. Pada 19 Desember 1936, Kulliyatu-l Mu'allimin al-Islamiyah (KMI) didirikan oleh KH Imam Zarkasyi.
KMI merupakan lembaga pendidikan tingkat menengah dengan masa belajar enam tahun. Sistem pendidikannya memadukan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan umum, sementara bahasa Arab dan bahasa Inggris digunakan dalam proses pembelajaran.
Perkembangan Gontor kemudian berlanjut ke jenjang pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi Darussalam berdiri pada 17 November 1963 dan dalam perjalanannya mengalami perubahan nama hingga menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
Tonggak penting lainnya terjadi pada 12 Oktober 1958 ketika para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor mewakafkan PMDG kepada umat Islam.
Wakaf tersebut menjadi bentuk penyerahan kepemilikan untuk kepentingan umat. Amanat pengelolaan kemudian diwakili 15 anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) yang menjadi Badan Wakaf PMDG.
Gontor Memasuki Usia Satu Abad
Perjalanan Gontor kemudian diteruskan dari generasi ke generasi. Setelah KH Imam Zarkasyi wafat pada 21 April 1985, Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan baru, yakni KH Shoiman Luqmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, dan KH Hasan Abdullah Sahal.
Kini, setelah melewati berbagai fase sejarah, Pondok Modern Darussalam Gontor genap berusia satu abad.
Seabad perjalanan Gontor memperlihatkan rangkaian sejarah panjang yang berawal dari tradisi keilmuan Pondok Tegalsari, berlanjut melalui Gontor Lama, hingga kebangkitan kembali Gontor Baru yang dirintis Trimurti pada 1926.
Dari perjalanan tersebut, Gontor kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. (detik)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Nasional |



01
02
03
04
05
