Senin, 21 September 2026

Breaking News

  • Kualitas Udara Pekanbaru Pagi Ini Masih Tidak Sehat, Pemko Perpanjang PJJ 21–22 September   ●   
  • Semangat Bekerja di Hari Senin: Ikhtiar Mencari Rezeki Juga Bernilai Ibadah   ●   
  • Genap 100 Tahun, Begini Panjangnya Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor   ●   
  • Serangan Houthi ke Saudi Dikecam   ●   
  • Kualitas Udara Pekanbaru Kembali Memburuk, PM2.5 Capai 253 µg/m³ Malam Ini   ●   
Genap 100 Tahun, Begini Panjangnya Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor
Senin 21 September 2026, 05:56 WIB
Ponpes Gontor Ponorogo.

GONTOR - Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) genap berusia 100 tahun pada 20 September 2026. Satu abad perjalanan Gontor tidak lahir dalam waktu singkat, tetapi melalui rangkaian sejarah panjang yang berakar dari Pondok Tegalsari di Ponorogo sejak abad ke-18.

Dari Pondok Tegalsari yang pernah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Ponorogo, muncul cikal bakal Pondok Gontor. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut melalui tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi.

Berawal dari Pondok Tegalsari

Cikal bakal sejarah Gontor dapat ditelusuri hingga Pondok Tegalsari yang didirikan Kyai Ageng Hasan Bashari atau Kyai Besari pada paruh pertama abad ke-18.

Mengutip laman resmi Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Pondok Tegalsari berada di Desa Tegalsari, sekitar 10 kilometer sebelah selatan Ponorogo.

Pada masa kejayaannya, ribuan santri dari berbagai wilayah Jawa dan sekitarnya datang untuk menuntut ilmu. Besarnya jumlah santri kemudian turut membentuk kawasan Tegalsari dan desa-desa di sekitarnya menjadi lingkungan pondokan.

Sejumlah tokoh penting juga tercatat memiliki hubungan dengan Pondok Tegalsari, antara lain Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; pujangga Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito; serta tokoh pergerakan nasional H.O.S. Cokroaminoto.

Dalam perkembangannya, Pondok Tegalsari mengalami kemunduran. Pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri bernama Sulaiman Jamaluddin yang dikenal memiliki kemampuan menonjol dalam berbagai bidang.

Sulaiman Jamaluddin merupakan putra Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Setelah menyelesaikan pendidikan di Tegalsari, ia dipercaya Kyai Khalifah untuk membuka pesantren di Desa Gontor.

Gontor Lama Berdiri di Tengah Hutan

Pada masa itu, Gontor belum menjadi kawasan pesantren seperti sekarang. Wilayah tersebut masih berupa kawasan hutan yang relatif sepi dan dikenal sebagai tempat persembunyian berbagai kelompok.

Dengan membawa 40 santri yang dibekalkan Kyai Khalifah, Sulaiman Jamaluddin mulai merintis Pondok Gontor. Dari sinilah perjalanan Gontor Lama dimulai.

Pondok tersebut kemudian berkembang, terutama ketika kepemimpinan berlanjut kepada putra Sulaiman Jamaluddin, Kyai Archam Anom Besari. Santri datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk Pasundan.

Namun, memasuki generasi ketiga di bawah kepemimpinan Kyai Santoso Anom Besari, Gontor Lama mulai mengalami kemunduran. Aktivitas pendidikan dan pengajaran berkurang, salah satunya akibat persoalan kaderisasi. Jumlah santri pun terus menyusut.

Setelah Kyai Santoso wafat, tidak ada lagi anggota keluarga yang mampu meneruskan keberadaan pondok. Yang tersisa adalah Nyai Santoso bersama tujuh putra-putrinya, sebuah rumah sederhana, serta masjid tua peninggalan keluarga.

Nyai Santoso kemudian berupaya agar keberadaan Gontor tidak berakhir.

Tekad Menghidupkan Kembali Gontor

Nyai Santoso mempersiapkan anak-anaknya agar dapat melanjutkan perjuangan keluarga. Tiga putranya kemudian dikirim untuk menimba ilmu di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan.

Ketiga putra tersebut adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasyi. Ketiganya kelak dikenal sebagai Trimurti, tiga bersaudara yang menjadi pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1345 H dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi, pembukaan kembali Pondok Gontor dideklarasikan. Momentum tersebut menjadi salah satu tonggak berdirinya Gontor Baru.

Dalam mengembangkan Gontor Baru, Trimurti tidak hanya mempertahankan tradisi pesantren, tetapi juga mempelajari berbagai model pendidikan dari luar negeri.

Mereka mengkaji empat lembaga pendidikan, yakni Universitas Al-Azhar di Mesir, Pondok Syanggit di Mauritania, Universitas Muslim Aligarh di India, serta Santiniketan yang didirikan Rabindranath Tagore.

Berbagai model tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi dalam merancang sistem pendidikan Gontor yang memadukan sejumlah pendekatan pendidikan.

Gagasan tersebut juga mendapat pengaruh dari Kongres Umat Islam Indonesia di Surabaya pada 1926. Salah satu pengalaman yang menginspirasi KH Ahmad Sahal adalah persoalan kemampuan bahasa Arab dan Inggris ketika umat Islam Indonesia perlu berkomunikasi dalam forum internasional.

Dari pengalaman tersebut berkembang gagasan mengenai pentingnya pendidikan yang tidak hanya memberikan penguasaan ilmu agama, tetapi juga kemampuan bahasa dan wawasan yang lebih luas.

KMI Menjadi Tonggak Pendidikan Gontor

Perjalanan pendidikan Gontor terus berkembang. Pada 19 Desember 1936, Kulliyatu-l Mu'allimin al-Islamiyah (KMI) didirikan oleh KH Imam Zarkasyi.

KMI merupakan lembaga pendidikan tingkat menengah dengan masa belajar enam tahun. Sistem pendidikannya memadukan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan umum, sementara bahasa Arab dan bahasa Inggris digunakan dalam proses pembelajaran.

Perkembangan Gontor kemudian berlanjut ke jenjang pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi Darussalam berdiri pada 17 November 1963 dan dalam perjalanannya mengalami perubahan nama hingga menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Tonggak penting lainnya terjadi pada 12 Oktober 1958 ketika para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor mewakafkan PMDG kepada umat Islam.

Wakaf tersebut menjadi bentuk penyerahan kepemilikan untuk kepentingan umat. Amanat pengelolaan kemudian diwakili 15 anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) yang menjadi Badan Wakaf PMDG.

Gontor Memasuki Usia Satu Abad

Perjalanan Gontor kemudian diteruskan dari generasi ke generasi. Setelah KH Imam Zarkasyi wafat pada 21 April 1985, Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan baru, yakni KH Shoiman Luqmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, dan KH Hasan Abdullah Sahal.

Kini, setelah melewati berbagai fase sejarah, Pondok Modern Darussalam Gontor genap berusia satu abad.

Seabad perjalanan Gontor memperlihatkan rangkaian sejarah panjang yang berawal dari tradisi keilmuan Pondok Tegalsari, berlanjut melalui Gontor Lama, hingga kebangkitan kembali Gontor Baru yang dirintis Trimurti pada 1926.

Dari perjalanan tersebut, Gontor kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. (detik)




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 18 September 2026
Jangan Jadikan Takdir Alasan Bermalas-malasan, Takdir Bukan Alasan Berhenti Berusaha

Kamis 17 September 2026
2027 Punya 18 Hari Libur Nasional, Ini Daftar Lengkapnya

Selasa 15 September 2026
TNI AL Sambangi Pesisir Bantan, Narkoba dan Abrasi Jadi Sorotan

Sabtu 12 September 2026
Catat, Ini Perkiraan Libur Hari Besar Islam Tahun 2027

Rabu 09 September 2026
Musyran VI Pramuka Bukit Batu, Edi Sakura Dorong Kepemimpinan yang Solid dan Bersinergi

Rabu 09 September 2026
Mulai Kehilangan Semangat? Ini Sejumlah Cara Sederhana Mengatasi Burnout

Senin 07 September 2026
Ikan atau Kucing, Apa yang Pertama Kamu Lihat? Begini Gambaran Sifatnya

Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top