Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah kawasan Kota Pekanbaru, Riau, Minggu (20/9/2026) malam. Berdasarkan data BMKG konsentrasi PM2.5 mencapai 253 µg/m³ pada pukul 19.00 WIB atau masuk kategori Berbahaya.
PEKANBARU — Kualitas udara Kota Pekanbaru kembali memburuk pada Minggu malam, 20 September 2026. Setelah sempat membaik akibat hujan, konsentrasi partikulat halus PM2.5 kembali melonjak hingga 253 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 19.00 WIB, berdasarkan pemantauan yang merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Angka tersebut sudah berada di atas ambang 250,5 µg/m³, yang dalam klasifikasi BMKG masuk kategori “Berbahaya”. BMKG menetapkan rentang PM2.5 lebih dari 250,5 µg/m³ sebagai kategori berbahaya.
Kondisi ini menjadi perubahan tajam setelah hujan yang mengguyur Pekanbaru dan sejumlah wilayah Riau sebelumnya sempat membantu membersihkan partikulat di udara.
Pada Sabtu pagi, misalnya, konsentrasi PM2.5 Pekanbaru sempat tercatat 9,9 µg/m³ atau kategori baik setelah hujan turun. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama.
Dilaporkan berdasarkan data BMKG bahwa pada Minggu pukul 19.00 WIB, PM2.5 Pekanbaru mencapai 253 µg/m³ dan masuk zona berbahaya. Kabut asap kembali dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Asap kembali menjadi perhatian
Kembalinya kualitas udara ke level berbahaya menunjukkan bahwa turunnya hujan belum otomatis mengakhiri persoalan karhutla.
Hujan memang dapat membantu membasahi lahan dan menekan partikulat di udara. Namun, apabila masih terdapat lahan yang menyimpan bara atau kembali muncul titik api, asap dapat kembali terbawa angin menuju wilayah perkotaan.
BMKG sendiri menyediakan pemantauan PM2.5 secara near real-time serta pemodelan sebaran partikulat kabut asap hingga tiga hari ke depan. Informasi tersebut mempertimbangkan konsentrasi partikulat dan parameter meteorologi seperti suhu, kelembapan serta angin.
Data prediksi BMKG yang diperbarui 19 September juga menunjukkan bahwa sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya pada 20–22 September.
Dampak bagi kesehatan
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Ketika konsentrasinya tinggi, masyarakat berisiko mengalami gangguan kesehatan, terutama kelompok rentan.
Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih antara lain:
- anak-anak;
- lansia;
- ibu hamil;
- penderita asma;
- penderita penyakit paru;
- penderita penyakit jantung; dan
- masyarakat yang harus bekerja atau beraktivitas cukup lama di luar ruangan.
Dalam kondisi udara berbahaya, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat.
Masyarakat yang harus keluar rumah juga dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus serta menghindari berada terlalu lama di kawasan yang berasap.
Bagaimana dengan sekolah Pekanbaru?
Persoalan kualitas udara juga sebelumnya telah berdampak langsung terhadap kegiatan pendidikan.
Pemko Pekanbaru pada 16–18 September 2026 kembali memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk jenjang PAUD/TK hingga SMP karena memburuknya kualitas udara. Pemko saat itu membuka kemungkinan memperpanjang PJJ apabila kondisi udara belum membaik.
Untuk jenjang SMA, SMK dan SLB, Dinas Pendidikan Provinsi Riau sebelumnya menerapkan PJJ pada 16–18 September dan menyampaikan bahwa pembelajaran tatap muka direncanakan kembali pada Senin, 21 September 2026, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi udara masing-masing daerah.
Dengan kondisi PM2.5 kembali mencapai level berbahaya pada Minggu malam, perkembangan data BMKG menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan pemerintah dan satuan pendidikan sebelum menentukan langkah pembelajaran pada Senin.
Pemerintah tetap perlu waspada
Membaiknya udara setelah hujan sebelumnya juga mendapat perhatian BPBD dan kepolisian. Pemerintah mengingatkan bahwa turunnya hujan bukan berarti ancaman karhutla telah selesai.
BPBD Riau menyatakan hujan membantu membasahi lahan dan menekan potensi munculnya titik api baru, tetapi pemantauan tetap dilakukan karena kondisi cuaca dapat berubah. Masyarakat juga diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Dengan kembali tingginya PM2.5 malam ini, upaya pencegahan karhutla, pemantauan titik panas, pemadaman serta pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran tetap diperlukan.
Warga diminta tidak panik, tetapi waspada
Kondisi udara berbahaya malam ini tidak berarti masyarakat harus panik. Namun, data tersebut perlu menjadi dasar untuk mengurangi paparan asap dan partikulat.
Bagi masyarakat Pekanbaru, langkah paling sederhana malam ini adalah mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela ketika asap masuk, menggunakan penyaring udara bila tersedia, serta memantau perkembangan kualitas udara dari sumber resmi.
Kondisi udara juga dapat berubah dalam beberapa jam. Karena itu, angka 253 µg/m³ pada pukul 19.00 WIB sebaiknya dibaca sebagai kondisi pada waktu pengamatan tersebut, bukan jaminan bahwa angka akan tetap sama sepanjang malam.(*)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Pekanbaru |



01
02
03
04
05
