Jumat, 18 September 2026

Breaking News

  • Deteksi Dini Kelangkaan, Polsek Senapelan Pantau Stok dan Harga Sembako   ●   
  • Job Fair MTQ 2026 Buka Lebih dari 3.000 Lowongan, Ada Sekitar 300 Jabatan   ●   
  • Survei: Lebih dari 80 Persen Konsumen Indonesia Periksa Bahan Makanan Sebelum Membeli   ●   
  • KPK Geledah Kantor Summarecon Terkait Kasus Dugaan Suap HGB ATR/BPN   ●   
  • Debut Gemilang di Asian Games 2026, Yoga Ardika Putra Raih Dua Kemenangan di Teqball   ●   
Jangan Jadikan Takdir Alasan Bermalas-malasan, Takdir Bukan Alasan Berhenti Berusaha
Jumat 18 September 2026, 06:47 WIB
ilustrasi.

YOGYAKARTA - Keimanan kepada qada dan qadar tidak semestinya membuat seorang Muslim berhenti berusaha. Takdir perlu dipahami bersama dengan ikhtiar, doa, dan sikap menerima hasil setelah seluruh usaha dilakukan.

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Rachmadhani dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (14/09). Dalam kajian tersebut, Fajar membedah hadis keempat dalam Arbain Nawawi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra.

Fajar menjelaskan bahwa hadis tersebut menyebutkan empat perkara yang ditetapkan bagi manusia, yakni rezeki, ajal, amal, serta apakah seseorang kelak termasuk orang yang bahagia atau sengsara.

Menurutnya, pemahaman terhadap hadis tersebut tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa seluruh kehidupan manusia telah ditetapkan sehingga manusia cukup menunggu hasil akhirnya.

“Hadis ini bukan dalam rangka mengajarkan kita agar pasif dalam kehidupan. Enggak,” tegas Fajar.

Ia mengingatkan bahwa para sahabat sendiri mempertanyakan konsekuensi dari ketetapan tersebut. Jika tempat seseorang di surga atau neraka telah ditentukan, untuk apa manusia masih diperintahkan beramal?

Pertanyaan tersebut, menurut Fajar, dijawab Nabi Saw dengan perintah untuk tetap beramal. Nabi kemudian menyampaikan kaidah fa kullun muyassarun lima khuliqa lahu, bahwa setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya diciptakan.

“Kata Nabi tetap beramal, tetap berbuat sebanyak-banyaknya,” ujar Fajar.

Beda Alhusunah, Jabariyah, dan Qadariyah dalam Melihat Takdir

Fajar menjelaskan bahwa pemahaman tersebut membedakan sikap Ahlusunah dari pandangan yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha. Ia menggambarkan Jabariyah sebagai pandangan yang meniadakan kehendak manusia, sedangkan Qadariyah digambarkan menekankan kehendak manusia secara berlebihan hingga melupakan kehendak Allah.

Menurut Fajar, posisi pertengahan adalah mengakui adanya kehendak manusia sekaligus meyakini bahwa kehendak tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah.

“Jadi, ahlusunah ini meyakini bahwa Allah itu ketika menciptakan manusia, Allah berikan kepada manusia ini kehendak. Tapi kehendak manusia tidak terlepas dari kehendak Allah,” jelasnya.

Karena itu, Fajar mengingatkan agar ungkapan qaddarallahu wa ma sya’a fa’al tidak digunakan untuk membenarkan kemalasan atau kegagalan yang terjadi karena seseorang tidak berusaha.

Ia mengutip rangkaian pesan Nabi Saw agar seorang Muslim bersungguh-sungguh mengejar hal yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak mudah menyerah. 

Seimbangkan Ikhtiar dan Tawakal 

“Setelah Nabi itu mengatakan kerjo sing tenanan gitu ya, ikhtiar yang maksimal, belajar sungguh-sungguh itu artinya ihris ala ma yanfauk. Tapi setelah itu Nabi mengatakan wastain billah,” tuturnya.

Fajar menekankan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersama. Setelah berusaha secara maksimal dan memohon pertolongan Allah, seorang Muslim diminta untuk tidak berputus asa ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Adapun ketika musibah telah terjadi, sikap yang diajarkan Nabi Saw adalah menerima ketetapan Allah dan tidak terus terjebak dalam penyesalan dengan membayangkan berbagai kemungkinan yang telah berlalu.

“Jadi kata qadarullah ma syaa fa’ala itu kita terima apapun hasilnya suka atau tidak suka setelah kita melewati proses-proses tadi. Itulah prinsip ahlusunah,” jelasnya.

Dengan pemahaman tersebut, Fajar mengajak jamaah menempatkan takdir setelah ikhtiar, bukan menjadikan takdir sebagai pengganti ikhtiar. Menurutnya, apa yang telah terjadi merupakan ketetapan Allah, sedangkan tugas manusia adalah terus beramal dan berusaha selama masih memiliki kesempatan.

“Maka ahlusunah dalam memahami al-qada dan qadar itu, Bapak Ibu yang dirahmati oleh Allah, yang sudah terjadi, biarlah terjadi itu ketetapan Allah dan pasti itulah yang terbaik,” pungkasnya.(muhammadiyah)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 18 September 2026
Jangan Jadikan Takdir Alasan Bermalas-malasan, Takdir Bukan Alasan Berhenti Berusaha

Kamis 17 September 2026
2027 Punya 18 Hari Libur Nasional, Ini Daftar Lengkapnya

Selasa 15 September 2026
TNI AL Sambangi Pesisir Bantan, Narkoba dan Abrasi Jadi Sorotan

Sabtu 12 September 2026
Catat, Ini Perkiraan Libur Hari Besar Islam Tahun 2027

Rabu 09 September 2026
Musyran VI Pramuka Bukit Batu, Edi Sakura Dorong Kepemimpinan yang Solid dan Bersinergi

Rabu 09 September 2026
Mulai Kehilangan Semangat? Ini Sejumlah Cara Sederhana Mengatasi Burnout

Senin 07 September 2026
Ikan atau Kucing, Apa yang Pertama Kamu Lihat? Begini Gambaran Sifatnya

Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top