Selasa, 3 November 2026

Breaking News

  • Sholat Dhuha Jam Berapa Sudah Boleh Dikerjakan? Ini Penjelasan Waktu dan Batas Akhirnya   ●   
  • Paguyuban FPK Riau Tampilkan Ragam Budaya, Meriahkan Arak-arakan LAM Riau   ●   
  • Paguyuban Sumbagsel dan FPK Riau Perkuat Silaturahmi, Jaga Keharmonisan Masyarakat   ●   
  • Pemkab Siak Gelar Yasinan dan Doa Bersama untuk Almarhum H. Arwin AS   ●   
  • SF Hariyanto: Jangan Lengah, Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Saat Musim Hujan   ●   
Jangan Jadikan Takdir Alasan Bermalas-malasan, Takdir Bukan Alasan Berhenti Berusaha
Jumat 18 September 2026, 06:47 WIB
ilustrasi.

YOGYAKARTA - Keimanan kepada qada dan qadar tidak semestinya membuat seorang Muslim berhenti berusaha. Takdir perlu dipahami bersama dengan ikhtiar, doa, dan sikap menerima hasil setelah seluruh usaha dilakukan.

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Rachmadhani dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (14/09). Dalam kajian tersebut, Fajar membedah hadis keempat dalam Arbain Nawawi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra.

Fajar menjelaskan bahwa hadis tersebut menyebutkan empat perkara yang ditetapkan bagi manusia, yakni rezeki, ajal, amal, serta apakah seseorang kelak termasuk orang yang bahagia atau sengsara.

Menurutnya, pemahaman terhadap hadis tersebut tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa seluruh kehidupan manusia telah ditetapkan sehingga manusia cukup menunggu hasil akhirnya.

“Hadis ini bukan dalam rangka mengajarkan kita agar pasif dalam kehidupan. Enggak,” tegas Fajar.

Ia mengingatkan bahwa para sahabat sendiri mempertanyakan konsekuensi dari ketetapan tersebut. Jika tempat seseorang di surga atau neraka telah ditentukan, untuk apa manusia masih diperintahkan beramal?

Pertanyaan tersebut, menurut Fajar, dijawab Nabi Saw dengan perintah untuk tetap beramal. Nabi kemudian menyampaikan kaidah fa kullun muyassarun lima khuliqa lahu, bahwa setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya diciptakan.

“Kata Nabi tetap beramal, tetap berbuat sebanyak-banyaknya,” ujar Fajar.

Beda Alhusunah, Jabariyah, dan Qadariyah dalam Melihat Takdir

Fajar menjelaskan bahwa pemahaman tersebut membedakan sikap Ahlusunah dari pandangan yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha. Ia menggambarkan Jabariyah sebagai pandangan yang meniadakan kehendak manusia, sedangkan Qadariyah digambarkan menekankan kehendak manusia secara berlebihan hingga melupakan kehendak Allah.

Menurut Fajar, posisi pertengahan adalah mengakui adanya kehendak manusia sekaligus meyakini bahwa kehendak tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah.

“Jadi, ahlusunah ini meyakini bahwa Allah itu ketika menciptakan manusia, Allah berikan kepada manusia ini kehendak. Tapi kehendak manusia tidak terlepas dari kehendak Allah,” jelasnya.

Karena itu, Fajar mengingatkan agar ungkapan qaddarallahu wa ma sya’a fa’al tidak digunakan untuk membenarkan kemalasan atau kegagalan yang terjadi karena seseorang tidak berusaha.

Ia mengutip rangkaian pesan Nabi Saw agar seorang Muslim bersungguh-sungguh mengejar hal yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak mudah menyerah. 

Seimbangkan Ikhtiar dan Tawakal 

“Setelah Nabi itu mengatakan kerjo sing tenanan gitu ya, ikhtiar yang maksimal, belajar sungguh-sungguh itu artinya ihris ala ma yanfauk. Tapi setelah itu Nabi mengatakan wastain billah,” tuturnya.

Fajar menekankan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersama. Setelah berusaha secara maksimal dan memohon pertolongan Allah, seorang Muslim diminta untuk tidak berputus asa ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Adapun ketika musibah telah terjadi, sikap yang diajarkan Nabi Saw adalah menerima ketetapan Allah dan tidak terus terjebak dalam penyesalan dengan membayangkan berbagai kemungkinan yang telah berlalu.

“Jadi kata qadarullah ma syaa fa’ala itu kita terima apapun hasilnya suka atau tidak suka setelah kita melewati proses-proses tadi. Itulah prinsip ahlusunah,” jelasnya.

Dengan pemahaman tersebut, Fajar mengajak jamaah menempatkan takdir setelah ikhtiar, bukan menjadikan takdir sebagai pengganti ikhtiar. Menurutnya, apa yang telah terjadi merupakan ketetapan Allah, sedangkan tugas manusia adalah terus beramal dan berusaha selama masih memiliki kesempatan.

“Maka ahlusunah dalam memahami al-qada dan qadar itu, Bapak Ibu yang dirahmati oleh Allah, yang sudah terjadi, biarlah terjadi itu ketetapan Allah dan pasti itulah yang terbaik,” pungkasnya.(muhammadiyah)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 30 Oktober 2026
Pasca Gudang Penimbun Dibongkar, SPBU di Riau Lancar, Polda Diminta Sikat Mobil Pelansir BBM

Rabu 28 Oktober 2026
Pentingnya Tawakal dalam Islam, dari Ketenangan Hati hingga Pintu Rezeki

Selasa 27 Oktober 2026
Jangan Merampas Hak Orang Lain, Ini Penjelasan Hukum Ghasb dalam Islam

Senin 26 Oktober 2026
Edi Sakura Buka KMD di Bathin Solapan, Cetak Pembina Pramuka Berkualitas untuk Generasi Muda

Sabtu 24 Oktober 2026
Pentingnya Memilih Teman Saleh untuk Menjaga Istiqamah dalam Beragama

Jumat 23 Oktober 2026
Polda Riau Tancap Gas Berantas Dugaan Penimbunan Solar, Antrean SPBU Mulai Terurai

Rabu 21 Oktober 2026
Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport

Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top