Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipantau investor di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Pada perdagangan Kamis (10/9/2026), IHSG ditutup melemah 1,33 persen ke level 6.589,34 di tengah tekanan pasar global dan lonjakan harga minyak dunia.
JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.589,34, turun 88,86 poin atau 1,33 persen. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Data perdagangan yang dirangkum Kontan menunjukkan indeks LQ45 juga melemah 1,25 persen menjadi 655,98, sementara KOMPAS100 turun 1,20 persen.
Harga Minyak Dunia Jadi Perhatian
Tekanan terhadap pasar saham tidak terlepas dari kenaikan harga minyak mentah global. Pada Kamis, harga minyak Brent sempat menembus sekitar US$105 per barel, setelah meningkat sekitar 4 persen.
Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi akibat meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di kawasan Timur Tengah. Brent bahkan tercatat naik lebih dari 30 persen dibandingkan titik terendah pada awal Agustus.
Kondisi ini menjadi perhatian investor karena harga energi yang tinggi berpotensi kembali mendorong inflasi global. Jika tekanan inflasi meningkat, ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga dapat semakin terbatas.
IHSG Tertekan Bursa Global
Sebelum perdagangan Indonesia berlangsung, pasar global juga menghadapi tekanan. Wall Street bergerak melemah, sementara sejumlah bursa Asia ikut tertekan oleh kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi.
Reuters melaporkan Brent berada di atas US$100 per barel, sementara investor juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang dapat menjadi pertimbangan penting bagi kebijakan Federal Reserve.
Sentimen tersebut kemudian ikut memengaruhi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada perdagangan pagi, IHSG sebenarnya hanya turun tipis sekitar 0,11 persen. Namun tekanan semakin besar hingga akhirnya indeks ditutup di 6.589,34.
Rupiah Juga Menjadi Sorotan
Pergerakan rupiah turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pada perdagangan pagi Kamis, rupiah berada di sekitar Rp17.512 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan penutupan sebelumnya.
Tekanan terhadap mata uang negara berkembang muncul ketika investor kembali berhati-hati terhadap risiko global, terutama akibat kenaikan harga minyak dan tingginya imbal hasil obligasi negara-negara maju.
Meski demikian, penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya menunjukkan bahwa mata uang Indonesia masih mendapat dukungan dari arus modal dan sentimen domestik tertentu.
Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian khusus bagi Indonesia karena dapat meningkatkan biaya energi, transportasi dan logistik.
Apabila harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi melalui kenaikan biaya produksi dan distribusi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat.
Di sisi lain, perusahaan yang berkaitan dengan sektor energi dan komoditas dapat memperoleh manfaat tertentu dari kenaikan harga komoditas, sehingga dampaknya terhadap pasar saham tidak selalu seragam.
Investor Kini Menunggu Arah Kebijakan Global
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi Amerika Serikat dan keputusan bank sentral utama dunia.
Reuters melaporkan investor sedang menunggu data inflasi AS yang akan menjadi salah satu pertimbangan penting Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Situasi tersebut membuat pasar keuangan global bergerak lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi.
Bagi Indonesia, kombinasi antara harga minyak tinggi, tekanan pasar saham, pergerakan rupiah dan kebijakan suku bunga global menjadi faktor yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan.
Dengan IHSG yang ditutup melemah cukup tajam pada Kamis, pelaku pasar kini menanti apakah tekanan akan berlanjut pada perdagangan Jumat atau justru terjadi aksi beli setelah penurunan indeks.
Perkembangan harga minyak dunia dan kondisi geopolitik Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan investor dan pelaku usaha Indonesia malam ini.(*)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Ekonomi |



01
02
03
04
05
