Ilustrasi, lalulintas di sholat Hormuz.Untuk menghadapi perang ekonomi AS, Iran berencana memperluas blokade di semua wilayah Teluk Persia.TEHERAN-Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tinggi Iran (SNSC) Mohsen Rezaei mengingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa Teheran mempersiapkan blokade menyeluruh terhadap Teluk Persia. Blokade itu sebagai respons atas perang ekonomi yang dilancarkan AS terhadap Iran.
Rezaei, lewat akun X, Senin (7/9/2026) mengatakan bahwa luncuran rudal ke kapal induk AS belum lama ini sebagai peringatan untuk Washington.
"Perang ekonomi akan bertemu dengan sebuah zona pengecualian maritim di seluruh Teluk Persia dalam jarak blokade," ujar Rezaei.
"Postur operasional terhadap kapal-kapal perang dan pangkalan AS telah dikalibrasi secara mendasar."
Iran juga mengeklaim telah berhasil menguji coba rudal anti-kapal canggih baru saat menargetkan kapal-kapal milik Angkatan Laut AS belum lama ini. Menurut Rezaei dalam wawancara dengan Fars News dilansir The Cradle, rudal baru itu dites dalam sebuah operasi militer laut untuk kali pertama dan langsung menargetkan kapal perang AS.
Rezaei menggambarkan uji coba itu sebagai sebuah tes munisi spesial, yang menurutnya "menciptakan neraka bagi Amerika dan memaksa kapal-kapal Angkatan Laut AS kabur dari kawasan Teluk Persia.
Sebelumnya, Rezaei juga telah mengumumkan rencana penetapan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Di zona itu, setiap kapal yang memasuki kawasan tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Rezaei mengatakan zona tersebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan membentang ke sejumlah wilayah di Teluk, menurut laporan televisi pemerintah Iran Press TV.
Setiap kapal yang memasuki zona baru ini akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi, kata Rezaei dalam wawancara televisi.
Ia juga mengatakan Iran dan Oman akan menandatangani kesepakatan dalam beberapa hari mendatang mengenai koridor baru melalui Selat Hormuz, dengan titik masuk dan keluarnya berada di bawah kendali Iran.
Rezaei menegaskan Selat Hormuz sepenuhnya ditutup dan berada di bawah kendali angkatan bersenjata , sekaligus menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa jalur strategis tersebut masih terbuka sebagai kebohongan besar .
Kementerian Luar (Kemenlu) Negeri Iran pada Senin (7/9/2026) mengingatkan Korea Selatan bahwa pelibatan militer apapun di Selat Hormuz akan mendatangkan "konsekuensi serius". Peringatan ini dikeluarkan Teheran menyusul Seoul yang sedang mempertibangkan kontribus militer dalam upaya pengamanan kebebasan navigasi di selat strategis Teluk Persia itu.
"Hubungan antara Iran dan Republik Korea lebih dari 64 tahun dan selalu berdasarkan rasa meghormati saling menguntungkan. Iran sangat menghargai hubungan bersahabat dengan Republik Korea," ujar Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baqaei, menulis dalam bahasa Korea di X yang dilansir Korea Times.
Unggahan Baqaei diinterpretasikan sebagai sebuah pesan langsung untuk Seoul, menegaskan hubungan panjang kedua negara sebelum memberi peringatan atas operasi gabungan militer di kawasan Teluk Persia.
"Namun demikan, jelas bahwa di bahwa situasi terkini, partisipasi operasi apapun atau kehadiran militer oleh negara lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan berarti dukungan langsung kepada agresor dan akan menerima konsekuensi serius," kata Baqaei.
Dia menambahkan bahwa "tidak ada negara berdaulat dan bertanggung jawab" harus menyerah kepada apa yang ia gambarkan sebagai "tekanan dan pemerasan" AS untuk berpartisipasi dalam agresi terhadap Iran. Peringatan dikeluarkan Kemenlu Iran setelah pekan lalu, Cheong Wa Dae mengatakan bahwa Seoul tengah mempertimbangkan opsi militer dan non-militer, meski keputusan belum dibuat.
Opsi yang dipertimbangkan Seoul termasuk mengerahkan pesawat patroli maritim, sebuah kapal logistik atau unit pembersih ranjau. Peringatan Baqaei senada dengan pernyataan seorang pejabat senior Iran dalam wawancara anonim dengan Al Mayadeen pada Jumat pekan lalu.
Pejabat itu mengingatkan Seoul untuk tidak menurut terhadap tekanan AS untuk bekerja saman dalam apa yang dia gambarkan sebagai operasi militer ilegal. Pejabat itu menyebut Korea seharusnya tidak mengorbankan kepentingan nasional dan reputasinya untuk kebijakan Washington.
"Keterlibatan apapun dari Korea di Selat Hormuz akan dinilai sebagai partisipasi militer langsung dalam agresi dan perang terhadap Iran," ujar pejabat tersebut**
| Editor | : | jr |
| Kategori | : | Internasional |



01
02
03
04
05
