Senin, 7 September 2026

Breaking News

  • Prabowo Bertemu Utusan AS di Hambalang, Hubungan Strategis RI-AS Jadi Sorotan   ●   
  • Empat Sumur Air Bersih Diresmikan di Minas, 95 rumah masyarakat Jadi Penerima Manfaat.   ●   
  • AfD Menang Besar di Jerman, Politik Eropa Kanan Jauh Makin Menguat   ●   
  • Erupsi Anak Krakatau Terkini 7 September 2026: Aktivitas Menurun, Potensi Letusan Susulan Masih Ada   ●   
  • Kualitas Udara Pekanbaru Pagi Ini Tidak Sehat, PM2.5 Tembus 104,4 µg/m³   ●   
Erupsi Anak Krakatau Terkini 7 September 2026: Aktivitas Menurun, Potensi Letusan Susulan Masih Ada
Senin 07 September 2026, 07:23 WIB
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, dalam episode erupsi terbaru September 2026. PVMBG menyatakan aktivitas kini menunjukkan tren penurunan, namun potensi erupsi susulan masih ada.

 

JAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terpantau mengalami penurunan, namun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan potensi erupsi susulan masih tetap ada.
 
Hingga Senin, 7 September 2026 pagi, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG menyatakan penurunan aktivitas berdasarkan instrumen pemantauan tidak berarti aktivitas gunung api telah berhenti sepenuhnya.
 
Episode erupsi menerus sebelumnya berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah itu, PVMBG mencatat satu erupsi Strombolian pada 6 September pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
 
Abu Vulkanik Menyebar ke Sejumlah Wilayah
 
Dampak paling luas dari aktivitas Anak Krakatau saat ini adalah sebaran abu vulkanik. PVMBG melaporkan pada 6 September arah sebaran abu bergerak ke wilayah barat, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin.
 
BMKG juga mengintensifkan pemantauan selama 24 jam. Analisis citra satelit BMKG pada 6 September menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. BMKG juga menerbitkan sejumlah SIGMET untuk mendukung keselamatan penerbangan.
 
Abu vulkanik bahkan dilaporkan mencapai sejumlah wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi, termasuk Karawang, sehingga masyarakat di daerah terdampak diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
 
Dua Warga Serang Dirujuk ke Rumah Sakit
 
Dampak kesehatan juga mulai dilaporkan. Dinas Kesehatan Provinsi Banten menyebut dua warga Kabupaten Serang dirujuk ke rumah sakit akibat gangguan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik.
 
Meski demikian, tren kasus ISPA di tingkat puskesmas masih disebut relatif stabil dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Dinkes Banten telah menyiagakan seluruh puskesmas selama 24 jam serta menempatkan Tim Gerak Cepat untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus.
 
Masyarakat yang harus berada di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata, terutama ketika konsentrasi abu meningkat.
 
Delapan Bandara Terdampak, Penutupan Diperpanjang
 
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak. Pemerintah sebelumnya menutup sejumlah bandara akibat penyebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
 
Terbaru pada Senin, 7 September 2026, Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan delapan bandara terdampak hingga pukul 09.00 WIB, sambil terus melakukan evaluasi berdasarkan kondisi abu vulkanik dan cuaca.
 
Delapan bandara tersebut adalah :
  1. Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang
  2. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
  3. Bandara Radin Inten II, Lampung
  4. Bandara Husein Sastranegara, Bandung
  5. Bandara Budiarto, Curug, Tangerang
  6. Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan
  7. Bandara Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung
  8. Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Kementerian Perhubungan menyatakan keselamatan menjadi prioritas. Pengujian paper test untuk mengetahui keberadaan abu vulkanik dilakukan setiap 30 menit di bandara terdampak maupun sejumlah bandara lainnya. Pesawat juga akan diperiksa sebelum kembali beroperasi untuk memastikan tidak terdapat abu vulkanik pada mesin.
 
Secara keseluruhan, 1.558 penerbangan terdampak akibat penutupan delapan bandara tersebut. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan BMKG, AirNav, operator bandara dan maskapai untuk menentukan perkembangan operasional penerbangan.
 
Penyeberangan Merak-Bakauheni Masih Berjalan
 
Berbeda dengan penerbangan, aktivitas penyeberangan Merak-Bakauheni masih berjalan aman dan lancar berdasarkan pemantauan BPBD Kota Cilegon.
 
BPBD menyebut kondisi Kota Cilegon secara umum masih aman. Debu vulkanik memang ditemukan di beberapa titik rumah warga, tetapi dampaknya disebut tidak parah karena arah angin bergerak ke barat daya dan tidak langsung menuju permukiman.
 
Masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua tetap diimbau menggunakan masker dan pelindung kepala ketika harus melakukan perjalanan.
 
Sekolah di Sejumlah Wilayah Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh
 
Dampak abu vulkanik juga memengaruhi aktivitas pendidikan. Sejumlah pemerintah daerah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai Senin, 7 September 2026 sebagai langkah perlindungan terhadap siswa dari paparan abu vulkanik.
 
Kebijakan tersebut juga berdampak terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan terdampak. Badan Gizi Nasional menyatakan operasional MBG di sekolah yang sementara tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka disesuaikan untuk sementara.
 
Pemerintah Minta Warga Tidak Panik
 
Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat di Jakarta, Banten, Lampung dan kawasan sekitar Selat Sunda tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan pemerintah serta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.
 
Pemerintah juga meminta BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan terus melakukan pemantauan serta memastikan kesiapsiagaan berjalan.
 
Radius 3 Kilometer Masih Berlaku
 
PVMBG menegaskan masyarakat, wisatawan dan nelayan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
 
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.
 
Yang penting, penurunan aktivitas bukan berarti ancaman telah berakhir. PVMBG masih melakukan pemantauan 24 jam karena waktu terjadinya erupsi susulan tidak dapat dipastikan.
 
Apakah Ada Potensi Tsunami?
 
Berdasarkan evaluasi Badan Geologi yang dipublikasikan setelah episode erupsi menerus, pertumbuhan tubuh Anak Krakatau pasca-erupsi 2018 masih relatif kecil dan belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Namun, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap dipantau secara intensif.
 
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus mengikuti informasi resmi PVMBG, BNPB, BMKG dan pemerintah daerah.

 

 




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top