Rabu, 21 Oktober 2026

Breaking News

  • Jangan Iri dengan Rezeki Orang Lain, Setiap Hamba Punya Takdirnya   ●   
  • Razia Sarang Narkoba Panger, Polda Riau Hancurkan Gubuk Transaksi Sabu   ●   
  • Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport   ●   
  • Wabup Syamsurizal Lantik 90 Pejabat di Lingkungan Pemkab Siak: Jabatan Adalah Amanah untuk Mengabdi, Bukan Mencari Kenyamanan   ●   
  • Harga Emas Antam Turun Lagi, Buyback di Pekanbaru Jadi Rp2,369 Juta per Gram   ●   
AS dan Iran Kembali Saling Serang, Konflik Timur Tengah Memanas dan Harga Minyak Melonjak
Rabu 02 September 2026, 14:44 WIB
Selat Hormuz menjadi titik kritis

 

JAKARTA — Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase eskalasi setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini menjadi salah satu perkembangan internasional paling menonjol pada Rabu, 2 September 2026, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan Timur Tengah dan stabilitas energi dunia.

Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Target yang disebut antara lain sistem pertahanan udara, radar, fasilitas komunikasi, aset maritim serta kemampuan peletakan ranjau milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas yang berkaitan dengan militer Amerika Serikat di Yordania, Bahrain dan Irak. Yordania dan Bahrain melaporkan adanya upaya intersepsi terhadap rudal maupun drone yang diluncurkan Iran.

Korban sipil menjadi perhatian

Eskalasi tersebut juga menimbulkan korban sipil. Reuters melaporkan sedikitnya lima orang, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan AS di wilayah Sirik, Iran. Puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut dan menyatakan akan melakukan pembalasan.

Amerika Serikat sendiri menyatakan operasi militernya berkaitan dengan ancaman terhadap kapal komersial dan pasukan AS di kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi global.

Selat Hormuz menjadi titik kritis

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu titik transit energi paling strategis. Aktivitas pelayaran melalui selat itu turun tajam. Data yang dikutip Reuters menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa, dibandingkan rata-rata sekitar 13 kapal dalam 10 hari sebelumnya.

Gangguan tersebut langsung berdampak terhadap pasar energi. Harga minyak Brent pada Rabu mencapai sekitar US$95,36 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$90,62 per barel. Kenaikan harga minyak juga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Pasar keuangan ikut terguncang

Eskalasi militer AS-Iran turut menekan pasar saham global. Bursa Asia mengalami penurunan, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. Nikkei Jepang tercatat turun sekitar 3 persen dan Kospi Korea Selatan merosot sekitar 3,6 persen dalam perdagangan Rabu.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah tidak lagi hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga berpotensi memberikan dampak langsung terhadap harga energi, inflasi, pasar keuangan dan biaya perdagangan internasional.

Diplomasi menghadapi tekanan

Di tengah meningkatnya serangan, peluang diplomasi masih menjadi perhatian. Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan Tehran siap merespons apabila Amerika Serikat kembali memenuhi komitmen dalam kesepakatan sementara yang dicapai kedua negara pada Juni.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalur diplomasi menghadapi tantangan berat. Pertukaran serangan terbaru menjadi eskalasi paling serius dalam beberapa pekan dan meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meluas di kawasan Teluk.

Dampak bagi dunia: jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut, gangguan distribusi minyak dan gas dapat mendorong harga energi lebih tinggi dan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Sumber: Reuters dan Associated Press, perkembangan hingga 2 September 2026.

 

 




Editor : Tim
Kategori : Internasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Rabu 21 Oktober 2026
Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport

Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top