Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak dunia menembus US$91 per barel. Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas pasar global.
JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan mulai memberikan tekanan terhadap pasar energi serta keuangan global. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah dunia menembus US$91 per barel, sementara investor mulai meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga.
Reuters melaporkan harga minyak Brent naik hingga sekitar US$91,23 per barel, sedangkan minyak mentah Amerika Serikat atau West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$86,62 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah kembali pecah aksi militer antara Amerika Serikat dan Iran setelah periode ketegangan yang relatif mereda.
Situasi tersebut juga berdampak pada jalur pelayaran internasional. Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia, kembali menjadi perhatian karena setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan energi global.
Pasar Keuangan Dunia Ikut Tertekan
Kenaikan harga energi membuat investor semakin khawatir terhadap prospek inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara meningkat pada Selasa.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun bahkan mencapai 3 persen, untuk pertama kalinya dalam satu generasi. Sementara imbal hasil Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun naik menjadi sekitar 4,78 persen, level tertinggi sejak awal 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan mulai memperhitungkan kemungkinan bank-bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi semakin kuat.
Dampak Bisa Menjalar ke Ekonomi Dunia
Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi. Biaya bahan bakar yang lebih mahal dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi dan distribusi barang.
Jika berlangsung lama, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga berbagai kebutuhan masyarakat di sejumlah negara.
Pasar saham juga bergerak hati-hati. Investor mempertimbangkan kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik, harga energi yang lebih tinggi dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Perkembangan konflik Timur Tengah kini menjadi salah satu perhatian utama pasar dunia. Investor akan mencermati apakah ketegangan tersebut berkembang menjadi konflik yang lebih luas atau kembali memasuki jalur diplomasi.
Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk negara-negara Asia, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi dan memberikan tekanan terhadap inflasi domestik.
Sumber: Reuters dan Associated Press, 1 September 2026
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Internasional |



01
02
03
04
05
