Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Sabtu 29 Agustus 2026, 09:22 WIB
Ubi Ungu.

UBE atau ubi Dioscorea alata kini semakin populer dalam berbagai kreasi kuliner. Warna ungunya yang pekat dan menarik banyak digunakan dalam pembuatan roti, kue, minuman hingga makanan penutup.

Meski sekilas mirip, ube sebenarnya berbeda dengan ubi ungu atau Ipomoea batatas. Selain berasal dari jenis tanaman yang berbeda, pigmen warna pada ube juga memiliki karakteristik yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap panas saat diolah.

Ahli pengolahan pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr Aldila Din Pangawikan, menjelaskan warna ungu pada ube maupun ubi ungu berasal dari senyawa antioksidan bernama antosianin.

Namun, karakteristik antosianin pada setiap tanaman tidak selalu sama. Salah satu faktor yang memengaruhi kestabilannya adalah struktur kimia yang disebut asilasi.

Antosianin Membuat Ube Tetap Ungu

Menurut Aldila, ubi ungu yang umum dikonsumsi juga memiliki antosianin terasilasi. Senyawa tersebut membuat warna ungu pada ubi relatif tetap bertahan meski telah melalui proses pemasakan.

Perbedaannya terdapat pada tingkat asilasi. Ubi ungu umumnya memiliki antosianin monoasilasi, sedangkan ube memiliki antosianin yang lebih banyak mengalami diasilasi.

“Ubi ungu yang biasa kita konsumsi kalau direbus masih ungu dan masih bagus. Itu monoasilasi atau terikat satu asam. Sementara yam atau ube mengalami diasilasi, terikat dua asam, sehingga ketika dipanaskan cenderung lebih stabil dibandingkan ubi berwarna ungu lainnya,” jelas Aldila kepada detikcom, Kamis (27/8/2026).

Ia mengibaratkan struktur tersebut seperti rantai pelindung. Semakin kuat ikatannya, pigmen antosianin semakin mampu bertahan ketika terkena panas.

Aldila menyebut ube memiliki tingkat kestabilan panas yang cukup tinggi dibandingkan sumber pigmen ungu lainnya. Pada kondisi pH 2,5 dan suhu 60 derajat Celsius, pigmen ube disebut masih mampu mempertahankan sekitar 72 persen kestabilannya.

Karakteristik tersebut membuat ube berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami makanan. Pemanfaatannya dinilai menarik, terutama untuk industri roti dan produk kembang gula atau confectionery.

Tidak Selalu Tahan terhadap Lingkungan

Meski relatif stabil terhadap panas, pigmen ube bukan berarti tidak mudah mengalami perubahan. Antosianin tetap sensitif terhadap sejumlah kondisi lingkungan, termasuk perubahan tingkat keasaman, cahaya, dan oksigen.

Aldila menjelaskan, keberadaan gugus asam pada pigmen membuat warna ube lebih stabil dalam kondisi asam. Sebaliknya, ketika berada pada lingkungan netral atau basa, struktur pigmen dapat mengalami degradasi.

“Warnanya berubah menjadi merah kebiruan yang akhirnya memang meluntur,” katanya.

Selain perubahan pH, pigmen ube juga dapat mengalami fotodegradasi atau kerusakan akibat paparan cahaya. Reaksi oksidasi juga dapat mempercepat perubahan warna, terutama ketika jaringan ube terbuka atau mengalami kerusakan sehingga lebih mudah bersentuhan dengan oksigen.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah keberadaan enzim Polyphenol Oxidase (PPO). Enzim tersebut dapat memicu perubahan warna ube menjadi kecokelatan.

Karena itu, dalam pengolahan skala industri, ube umumnya menjalani proses blanching atau pemanasan singkat. Tahapan ini dilakukan untuk membantu menonaktifkan enzim sehingga warna alami ube dapat lebih terjaga selama proses pengolahan.

Ube Berbeda dengan Ubi Ungu

Meskipun sama-sama memiliki warna ungu, ube dan ubi ungu merupakan dua jenis tanaman berbeda.

Ube memiliki nama ilmiah Dioscorea alata, sedangkan ubi ungu yang umum dikonsumsi termasuk dalam spesies Ipomoea batatas.

Perbedaan lainnya terdapat pada karakter pertumbuhan tanaman. Ube merupakan tanaman merambat, sementara ubi jalar tumbuh menjalar di permukaan tanah.

Karakteristik pigmen yang lebih stabil terhadap panas menjadi salah satu keunggulan ube. Hal tersebut pula yang membuat tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai sumber pewarna alami untuk berbagai produk pangan.(detik)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top