Sabtu, 5 September 2026

Breaking News

  • Dua Pekerja Diselamatkan Hidup-Hidup Setelah 9 Hari Terjebak di Terowongan Nepal   ●   
  • Prabowo Ajak Perusahaan Rusia Investasi di 138 Blok Energi Indonesia   ●   
  • Bagaimana Mengenali Orang Cerdas? Ini 9 Kebiasaan yang Bisa Diamati   ●   
  • Hari Pelanggan Nasional 2026, BRK Syariah Sudirman Apresiasi Nasabah   ●   
  • Empat Tahun Jadi Bank Syariah, BRK Syariah Hadapi Tantangan Perluasan Bisnis   ●   
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Sabtu 29 Agustus 2026, 09:22 WIB
Ubi Ungu.

UBE atau ubi Dioscorea alata kini semakin populer dalam berbagai kreasi kuliner. Warna ungunya yang pekat dan menarik banyak digunakan dalam pembuatan roti, kue, minuman hingga makanan penutup.

Meski sekilas mirip, ube sebenarnya berbeda dengan ubi ungu atau Ipomoea batatas. Selain berasal dari jenis tanaman yang berbeda, pigmen warna pada ube juga memiliki karakteristik yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap panas saat diolah.

Ahli pengolahan pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr Aldila Din Pangawikan, menjelaskan warna ungu pada ube maupun ubi ungu berasal dari senyawa antioksidan bernama antosianin.

Namun, karakteristik antosianin pada setiap tanaman tidak selalu sama. Salah satu faktor yang memengaruhi kestabilannya adalah struktur kimia yang disebut asilasi.

Antosianin Membuat Ube Tetap Ungu

Menurut Aldila, ubi ungu yang umum dikonsumsi juga memiliki antosianin terasilasi. Senyawa tersebut membuat warna ungu pada ubi relatif tetap bertahan meski telah melalui proses pemasakan.

Perbedaannya terdapat pada tingkat asilasi. Ubi ungu umumnya memiliki antosianin monoasilasi, sedangkan ube memiliki antosianin yang lebih banyak mengalami diasilasi.

“Ubi ungu yang biasa kita konsumsi kalau direbus masih ungu dan masih bagus. Itu monoasilasi atau terikat satu asam. Sementara yam atau ube mengalami diasilasi, terikat dua asam, sehingga ketika dipanaskan cenderung lebih stabil dibandingkan ubi berwarna ungu lainnya,” jelas Aldila kepada detikcom, Kamis (27/8/2026).

Ia mengibaratkan struktur tersebut seperti rantai pelindung. Semakin kuat ikatannya, pigmen antosianin semakin mampu bertahan ketika terkena panas.

Aldila menyebut ube memiliki tingkat kestabilan panas yang cukup tinggi dibandingkan sumber pigmen ungu lainnya. Pada kondisi pH 2,5 dan suhu 60 derajat Celsius, pigmen ube disebut masih mampu mempertahankan sekitar 72 persen kestabilannya.

Karakteristik tersebut membuat ube berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami makanan. Pemanfaatannya dinilai menarik, terutama untuk industri roti dan produk kembang gula atau confectionery.

Tidak Selalu Tahan terhadap Lingkungan

Meski relatif stabil terhadap panas, pigmen ube bukan berarti tidak mudah mengalami perubahan. Antosianin tetap sensitif terhadap sejumlah kondisi lingkungan, termasuk perubahan tingkat keasaman, cahaya, dan oksigen.

Aldila menjelaskan, keberadaan gugus asam pada pigmen membuat warna ube lebih stabil dalam kondisi asam. Sebaliknya, ketika berada pada lingkungan netral atau basa, struktur pigmen dapat mengalami degradasi.

“Warnanya berubah menjadi merah kebiruan yang akhirnya memang meluntur,” katanya.

Selain perubahan pH, pigmen ube juga dapat mengalami fotodegradasi atau kerusakan akibat paparan cahaya. Reaksi oksidasi juga dapat mempercepat perubahan warna, terutama ketika jaringan ube terbuka atau mengalami kerusakan sehingga lebih mudah bersentuhan dengan oksigen.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah keberadaan enzim Polyphenol Oxidase (PPO). Enzim tersebut dapat memicu perubahan warna ube menjadi kecokelatan.

Karena itu, dalam pengolahan skala industri, ube umumnya menjalani proses blanching atau pemanasan singkat. Tahapan ini dilakukan untuk membantu menonaktifkan enzim sehingga warna alami ube dapat lebih terjaga selama proses pengolahan.

Ube Berbeda dengan Ubi Ungu

Meskipun sama-sama memiliki warna ungu, ube dan ubi ungu merupakan dua jenis tanaman berbeda.

Ube memiliki nama ilmiah Dioscorea alata, sedangkan ubi ungu yang umum dikonsumsi termasuk dalam spesies Ipomoea batatas.

Perbedaan lainnya terdapat pada karakter pertumbuhan tanaman. Ube merupakan tanaman merambat, sementara ubi jalar tumbuh menjalar di permukaan tanah.

Karakteristik pigmen yang lebih stabil terhadap panas menjadi salah satu keunggulan ube. Hal tersebut pula yang membuat tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai sumber pewarna alami untuk berbagai produk pangan.(detik)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top