Rabu, 3 Juni 2026

Breaking News

  • Pastikan Kebutuhan Warga Terpenuhi, Polsek Senapelan Cek Stok dan Harga Sembako   ●   
  • Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Rumbai Intensif Dampingi Petani Jagung   ●   
  • Jaga Stabilitas Pangan, Polsek Rumbai Monitoring Pasar Tradisional   ●   
  • Jarang Terjadi, Tahun 2039 Akan Ada Dua Periode Haji dalam Satu Tahun Masehi   ●   
  • Jangan Salah Pilih Alat Masak, Ahli Sebut Spatula Plastik Berpotensi Lepaskan Senyawa Berbahaya   ●   
Prabowo Sebut Warga Desa Tak Pakai Dolar, Ekonom: Harga Pupuk hingga LPG Tetap Naik
Senin 18 Mei 2026, 06:12 WIB
Dolar vs Rupiah.

JAKARTA – Sejumlah ekonom menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Prabowo sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas transaksi sehari-hari.

Di tengah pernyataan tersebut, nilai tukar dolar AS diketahui telah menembus level Rp17.600 atau jauh di atas asumsi kurs dalam APBN 2026 yang berada di angka Rp16.500.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah tetap akan berdampak hingga ke masyarakat desa meskipun transaksi harian tidak menggunakan dolar AS secara langsung.

Menurutnya, perekonomian Indonesia saat ini sudah sangat terintegrasi dengan sistem global sehingga berbagai kebutuhan masyarakat pedesaan masih bergantung pada barang impor maupun bahan baku impor.

“Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang sudah Rp17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa,” kata Bhima, Minggu (17/5/2026).

Ia menjelaskan sejumlah kebutuhan masyarakat seperti LPG, pupuk, kendaraan bermotor, telepon seluler, barang elektronik, hingga mesin pertanian tetap akan terdampak akibat melemahnya kurs rupiah.

“Orang desa juga menggunakan barang-barang impor. Mulai dari handphone, kendaraan bermotor, komponen elektronik, sampai pupuk di sentra pertanian akan terpengaruh jika rupiah terus melemah,” ujarnya.

Bhima menilai pemerintah seharusnya mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi tekanan ekonomi global, bukan justru memberikan kesan situasi masih aman tanpa persiapan matang.

Menurutnya, komunikasi yang terlalu menenangkan dapat membuat masyarakat tidak siap menghadapi guncangan ekonomi mendadak.

“Sikap dan komunikasi seperti ini sangat membahayakan karena masyarakat seolah dibuat tenang, padahal tidak siap menghadapi sudden shock. Negara lain justru menyiapkan skenario terburuk karena dampak perang global masih panjang,” katanya.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS telah mencapai sekitar 7 persen dalam satu tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm serius karena berpotensi memengaruhi investasi dan ketenagakerjaan.

Bhima juga mengingatkan risiko meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di perkotaan yang dapat berdampak ke desa akibat arus pekerja yang kembali ke kampung halaman tanpa pekerjaan maupun penghasilan tetap.

“Kalau rupiah terus melemah, PHK massal bisa terjadi dan desa akan menanggung dampaknya ketika masyarakat kembali tanpa pekerjaan,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Ia mengatakan pelemahan rupiah ke level Rp17.600 per dolar AS akan tetap masuk ke ekonomi pedesaan melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Menurut Yusuf, sektor pertanian dan peternakan sangat rentan karena masih bergantung pada bahan baku impor seperti pupuk, jagung, dan bungkil kedelai untuk pakan ternak.

Selain itu, harga bahan bakar minyak (BBM), obat-obatan di puskesmas, hingga produk konsumsi harian juga memiliki komponen impor yang cukup besar.

“Ketika rupiah melemah tajam, dampaknya terhadap inflasi pedesaan bukan lagi soal terjadi atau tidak, tetapi seberapa cepat transmisinya muncul. Biasanya efek mulai terasa dalam satu hingga dua kuartal setelah depresiasi terjadi,” katanya.

Dari sisi ekonomi makro, Yusuf menilai persoalan yang lebih sensitif justru berkaitan dengan sinyal kebijakan yang diterima pasar. Menurutnya, pasar valuta asing sangat dipengaruhi persepsi terhadap komitmen pemerintah dan otoritas dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Ia menjelaskan, jika ekspektasi pelemahan terus berkembang, investor cenderung meningkatkan lindung nilai, permintaan dolar naik, arus modal keluar membesar, dan tekanan terhadap rupiah semakin kuat.

“Dalam ekonomi kondisi seperti ini disebut sebagai self-fulfilling depreciation,” ujarnya.

Yusuf juga mengingatkan bahwa narasi yang terlalu menenangkan berisiko menurunkan rasa urgensi publik terhadap pentingnya reformasi struktural di dalam negeri.

Padahal, tekanan terhadap kurs rupiah dinilai menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam perekonomian nasional, mulai dari ketergantungan impor pangan dan energi, dangkalnya pasar keuangan domestik, hingga tantangan menjaga disiplin fiskal di tengah tekanan global.(dtc)




Editor : Tim
Kategori : Ekonomi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Selasa 26 Mei 2026
Polytron Luxia R5 Resmi Meluncur, Laptop Ryzen 5 Harga Rp7 Jutaan dengan Fitur Premium

Minggu 10 Mei 2026
Investasi Menurut Rasulullah SAW: Hindari Riba, Utamakan Keberkahan dan Amanah

Rabu 06 Mei 2026
Ekspor Riau Tembus US$5,27 Miliar, Surplus Fantastis Meski Migas Anjlok

Kamis 30 April 2026
Alarm Iklim Dunia! El Nino “Super” 2026 Berpotensi Pecahkan Rekor Panas Global

Jumat 24 April 2026
Industri Media ‘Tidak Baik-baik Saja’, DPR RI Siap Bahas di Tingkat Nasional

Kamis 23 April 2026
Arab Saudi Ancam Denda Rp459 Juta Bagi Pihak yang Fasilitasi Orang ke Mekah dengan Visa Kunjungan

Selasa 21 April 2026
Utang Jatuh Tempo Rp833 Triliun di 2026, Pemerintah Hadapi Tekanan Likuiditas Besar

Minggu 19 April 2026
Mei 2026 Penuh “Tanggal Merah”! Ini Daftar Long Weekend yang Bikin Liburan Makin Panjang

Jumat 17 April 2026
Dugaan Keracunan Massal di Anambas, Menu MBG Jadi Sorotan

Rabu 08 April 2026
Sinergi BRI dan Unri, Parkir Baru Siap Tampung Ribuan Kendaraan

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top