JAKARTA – Para ilmuwan dan pakar iklim saat ini meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan fenomena El Nino di Samudra Pasifik. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu lonjakan suhu global hingga menembus rekor panas dalam waktu dekat.
Meskipun masih terlalu awal untuk memastikan dampak keseluruhan, sejumlah indikator menunjukkan kemungkinan terbentuknya El Nino dengan intensitas sangat kuat atau “super” pada tahun ini. Sejumlah model iklim bahkan mengindikasikan fenomena ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah.
Jika dikombinasikan dengan tren pemanasan global akibat aktivitas manusia, kondisi ini dapat mendorong suhu rata-rata bumi melampaui ambang kritis 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri.
Beberapa model iklim juga memproyeksikan anomali suhu global yang berpotensi menembus 2 derajat Celsius angka yang belum pernah tercatat sebelumnya.
“Sebagian besar model memang memperkirakan anomali suhu bulanan global tetap di bawah 2 derajat Celsius. Namun, adanya peluang, meski kecil, untuk mencapai angka tersebut sudah menjadi hal yang mengejutkan,” ujar peneliti Union of Concerned Scientists, Marc Alessi, seperti dikutip dari The Guardian.
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Siklus ini umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan.
Saat El Nino terjadi, pola angin yang biasanya mendorong massa air hangat ke arah barat melemah atau bahkan berbalik arah. Akibatnya, suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat signifikan.
Berdasarkan pemantauan terbaru dari US Climate Prediction Center, kondisi global saat ini berada dalam fase transisi dari La Nina menuju kondisi netral. Namun, sejumlah model iklim menunjukkan pergeseran cepat menuju fase El Nino.
Prakiraan dari International Research Institute for Climate and Society di Columbia University memperkirakan peluang sebesar 70 persen bahwa El Nino akan berkembang pada Juni 2026. Bahkan, kemungkinan bertahannya fenomena ini hingga akhir tahun mencapai 94 persen.
Sementara itu, Badan Meteorologi Inggris, Met Office, menyatakan tingkat keyakinan tinggi bahwa fenomena ini berpotensi mencetak rekor baru.
“Para ilmuwan menyampaikan bahwa ini bisa menjadi El Nino terkuat sepanjang abad ini,” demikian pernyataan Met Office pada pertengahan April 2026.
Apa Itu El Nino ‘Super’?
El Nino “super” merupakan istilah untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, ditandai oleh kenaikan suhu permukaan laut lebih dari 2 derajat Celsius di atas normal. Sejak 1950, kejadian ini tergolong langka dan hanya satu kali tercatat melampaui 2,5 derajat Celsius.
US Climate Prediction Center memperkirakan peluang 50 persen terbentuknya El Nino kuat hingga sangat kuat pada periode November hingga Januari mendatang. Dampaknya berpotensi dirasakan secara luas di berbagai belahan dunia.
Secara umum, El Nino memicu kekeringan dan gelombang panas di wilayah Australia, Afrika bagian selatan dan tengah, India, serta sebagian Amerika Selatan termasuk kawasan hutan Amazon. Sebaliknya, curah hujan ekstrem berpotensi terjadi di wilayah selatan Amerika Serikat, sebagian Timur Tengah, dan kawasan Asia Selatan hingga Tengah.
Fenomena ini juga memengaruhi pola badai global, dengan kecenderungan menekan aktivitas badai di Atlantik, namun meningkatkan intensitas badai tropis di Samudra Pasifik.
Sebagai perbandingan, El Nino “super” pada 2015 menyebabkan kekeringan parah di Ethiopia, krisis air di Puerto Rico, serta musim badai yang intens di Pasifik tengah-utara. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa setiap kejadian El Nino memiliki karakteristik yang berbeda dengan tingkat variabilitas tinggi.(dtc)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Internasional |



01
02
03
04
05
