Gaungkan semangat Hari Bumi, PEP Lirik ajak masyarakat ubah sampah jadi nilai guna bagi kehidupan.PELALAWAN – Peringatan Hari Bumi pada 23 April 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama yang dimulai dari langkah-langkah sederhana di tingkat rumah tangga.
Semangat tersebut tercermin melalui berbagai program yang dijalankan Pertamina EP (PEP) Lirik di wilayah operasionalnya. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, perusahaan ini mendorong pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan berbasis komunitas.
Sebagai bagian dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang berperan dalam mendukung ketahanan energi nasional, PEP Lirik mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan dalam keberlanjutan operasionalnya. Program-program yang digulirkan dirancang untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, sejalan dengan semangat Hari Bumi 2026 yang menekankan pentingnya aksi kolektif demi keberlanjutan bumi.
Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan bahwa perubahan perilaku lingkungan harus dibangun dari aktivitas keseharian masyarakat.
“Program lingkungan yang kami jalankan tidak bersifat seremonial, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan. Ketika manfaatnya dirasakan langsung, baik untuk kesehatan lingkungan maupun produktivitas pekarangan, maka kesadaran itu akan tumbuh secara alami,” ujarnya.
Dampak dari program tersebut kini mulai terlihat. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan, perlahan berubah menjadi sumber manfaat. Pekarangan rumah yang semula kurang dimanfaatkan, kini berkembang menjadi lahan produktif yang mendukung ketahanan pangan keluarga serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
Melalui program Bank Sampah di SMP Negeri 1 Lirik dan Program Kampung Iklim (Proklim) di Desa Lambangsari V, PEP Lirik menghadirkan edukasi sekaligus praktik langsung pengelolaan sampah dari sumbernya. Para siswa di SMPN 1 Lirik diajak mengolah sampah plastik menjadi ecobrick dengan dukungan mesin pencacah, sehingga kesadaran lingkungan dapat ditanamkan sejak dini.
Sementara itu, di Desa Lambangsari V, pengelolaan sampah rumah tangga dikembangkan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati melalui pemanfaatan komposter dan biopori yang terintegrasi dengan kegiatan pertanian pekarangan. Sejak 2025, bantuan berupa benih cabai, mesin pencacah organik, serta alat bor biopori turut memperluas implementasi program ini di tingkat rumah tangga.
Inisiatif tersebut juga diperkuat dengan pengembangan budidaya cacing (vermikultur) bersama Kelompok Tani Berkat Usaha. Lewat program Pulsa Cacing (Pengolahan Unik Limbah Sapi dan Sawit untuk Budidaya Cacing), limbah organik diolah menjadi vermikompos yang memiliki nilai ekonomi. Program ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk pengembangan kebun buah naga organik.
Ketua KWT Melati Desa Lambangsari V, Sri Wiji Rahayuningsih, mengakui adanya perubahan signifikan yang dirasakan masyarakat.
“Dulu sampah dapur hanya dibuang, sekarang bisa diolah menjadi kompos dan pupuk cacing untuk tanaman sendiri. Pekarangan menjadi lebih produktif, dan hasil panen meningkat,” ungkapnya.
Iwan menegaskan bahwa penguatan kapasitas kelompok masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program.
“Kami mendorong masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat. Dengan begitu, inisiatif lingkungan dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan,” katanya.
Momentum Hari Bumi ini menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Upaya tersebut juga berkontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 6 (air bersih dan sanitasi), 12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan), serta 17 (kemitraan untuk mencapai tujuan).(hrc)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Pelalawan |



01
02
03
04
05
