Rabu, 3 Juni 2026

Breaking News

  • Pastikan Kebutuhan Warga Terpenuhi, Polsek Senapelan Cek Stok dan Harga Sembako   ●   
  • Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Rumbai Intensif Dampingi Petani Jagung   ●   
  • Jaga Stabilitas Pangan, Polsek Rumbai Monitoring Pasar Tradisional   ●   
  • Jarang Terjadi, Tahun 2039 Akan Ada Dua Periode Haji dalam Satu Tahun Masehi   ●   
  • Jangan Salah Pilih Alat Masak, Ahli Sebut Spatula Plastik Berpotensi Lepaskan Senyawa Berbahaya   ●   
Tren Carnivore Diet Makin Populer, Pakar Ungkap Risiko di Balik Klaim Manfaat
Sabtu 27 Desember 2025, 06:35 WIB
ilustrasi: diet karnivora.

JAKARTA - Diet karnivora atau carnivore diet tengah menjadi perbincangan luas di media sosial. Pola makan yang mengandalkan konsumsi daging dan produk hewani ini semakin populer setelah banyak influencer mengklaim berbagai manfaat kesehatan, mulai dari penurunan berat badan hingga pencernaan yang lebih baik.

Salah satu figur yang kerap dikaitkan dengan tren ini adalah konten kreator Isabella Ma, yang dikenal melalui akun Instagram @steakandbuttergal. Mantan vegan tersebut kerap membagikan pengalamannya menjalani diet tinggi lemak berbasis hewan, bahkan menunjukkan konsumsi mentega secara langsung sebagai bagian dari rutinitas makannya.

Ia mengklaim tidak lagi mengalami perut kembung dan merasa kondisi pencernaannya jauh lebih baik. Namun, di balik popularitas tersebut, para ahli gizi justru mengingatkan adanya sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.

Carnivore diet pada dasarnya merupakan pola makan yang sepenuhnya atau hampir sepenuhnya mengandalkan daging, telur, dan produk susu, dengan menghilangkan atau sangat membatasi asupan sayur, buah, serta karbohidrat. Beberapa pelaku diet ini masih menambahkan sedikit makanan nabati, tetapi prinsip utamanya tetap berbasis hewani.

Peneliti nutrisi kesehatan masyarakat dari George Institute for Global Health, Dr. Eden Barrett, menyebut pola makan ini berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi penting. Menurutnya, risiko defisiensi vitamin C, folat, serta minimnya asupan serat menjadi persoalan utama.

“Serat sangat penting untuk kesehatan pencernaan dan terbukti melindungi tubuh dari penyakit jantung serta beberapa jenis kanker. Dalam diet karnivora, asupan serat hampir tidak ada,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian.

Selain itu, konsumsi daging hewani dalam jumlah besar berisiko meningkatkan asupan lemak jenuh yang dapat memicu kenaikan kolesterol jahat. Daging merah dan olahan juga telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, sementara konsumsi protein berlebih berpotensi membebani fungsi ginjal.

Dosen senior nutrisi dari University of New South Wales, Dr. Emma Beckett, menilai beberapa klaim yang beredar justru patut diwaspadai. Ia menyoroti pernyataan bahwa tubuh tidak lagi mengalami kentut atau buang air besar secara normal sebagai tanda yang tidak sehat.

“Fungsi pencernaan yang normal justru membutuhkan proses tersebut. Jika tidak terjadi, itu bisa menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaan,” tegasnya.

Senada, Profesor Emma Halmos dari Monash University mengungkapkan bahwa dalam praktik klinis, ia kerap menemui pasien yang mengalami gangguan saluran cerna akibat diet rendah serat seperti carnivore, keto, atau paleo.

Menurut Halmos, penurunan berat badan memang dapat terjadi karena diet ini menghilangkan karbohidrat, namun hal tersebut tidak serta-merta menjadikannya pola makan yang sehat. Tubuh manusia juga memiliki batas dalam menyerap protein, dan kelebihan protein yang tidak terserap dapat berdampak negatif pada keseimbangan bakteri usus.

Hingga kini, bukti ilmiah terkait efek jangka panjang diet karnivora masih sangat terbatas. Para ahli kesehatan, termasuk yang dikutip dari Cleveland Clinic, menegaskan bahwa pola makan seimbang yang mencakup berbagai kelompok makanan tetap menjadi rekomendasi utama.

Mengonsumsi buah, sayur, biji-bijian, protein tanpa lemak, serta membatasi karbohidrat sederhana dinilai jauh lebih aman dan berkelanjutan bagi kesehatan.

“Kuncinya ada pada keseimbangan dan moderasi, bukan menghilangkan satu kelompok makanan secara ekstrem,” pungkas Halmos.(hrc)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Selasa 26 Mei 2026
Polytron Luxia R5 Resmi Meluncur, Laptop Ryzen 5 Harga Rp7 Jutaan dengan Fitur Premium

Minggu 10 Mei 2026
Investasi Menurut Rasulullah SAW: Hindari Riba, Utamakan Keberkahan dan Amanah

Rabu 06 Mei 2026
Ekspor Riau Tembus US$5,27 Miliar, Surplus Fantastis Meski Migas Anjlok

Kamis 30 April 2026
Alarm Iklim Dunia! El Nino “Super” 2026 Berpotensi Pecahkan Rekor Panas Global

Jumat 24 April 2026
Industri Media ‘Tidak Baik-baik Saja’, DPR RI Siap Bahas di Tingkat Nasional

Kamis 23 April 2026
Arab Saudi Ancam Denda Rp459 Juta Bagi Pihak yang Fasilitasi Orang ke Mekah dengan Visa Kunjungan

Selasa 21 April 2026
Utang Jatuh Tempo Rp833 Triliun di 2026, Pemerintah Hadapi Tekanan Likuiditas Besar

Minggu 19 April 2026
Mei 2026 Penuh “Tanggal Merah”! Ini Daftar Long Weekend yang Bikin Liburan Makin Panjang

Jumat 17 April 2026
Dugaan Keracunan Massal di Anambas, Menu MBG Jadi Sorotan

Rabu 08 April 2026
Sinergi BRI dan Unri, Parkir Baru Siap Tampung Ribuan Kendaraan

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top