Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Tren Carnivore Diet Makin Populer, Pakar Ungkap Risiko di Balik Klaim Manfaat
Sabtu 27 Desember 2025, 06:35 WIB
ilustrasi: diet karnivora.

JAKARTA - Diet karnivora atau carnivore diet tengah menjadi perbincangan luas di media sosial. Pola makan yang mengandalkan konsumsi daging dan produk hewani ini semakin populer setelah banyak influencer mengklaim berbagai manfaat kesehatan, mulai dari penurunan berat badan hingga pencernaan yang lebih baik.

Salah satu figur yang kerap dikaitkan dengan tren ini adalah konten kreator Isabella Ma, yang dikenal melalui akun Instagram @steakandbuttergal. Mantan vegan tersebut kerap membagikan pengalamannya menjalani diet tinggi lemak berbasis hewan, bahkan menunjukkan konsumsi mentega secara langsung sebagai bagian dari rutinitas makannya.

Ia mengklaim tidak lagi mengalami perut kembung dan merasa kondisi pencernaannya jauh lebih baik. Namun, di balik popularitas tersebut, para ahli gizi justru mengingatkan adanya sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.

Carnivore diet pada dasarnya merupakan pola makan yang sepenuhnya atau hampir sepenuhnya mengandalkan daging, telur, dan produk susu, dengan menghilangkan atau sangat membatasi asupan sayur, buah, serta karbohidrat. Beberapa pelaku diet ini masih menambahkan sedikit makanan nabati, tetapi prinsip utamanya tetap berbasis hewani.

Peneliti nutrisi kesehatan masyarakat dari George Institute for Global Health, Dr. Eden Barrett, menyebut pola makan ini berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi penting. Menurutnya, risiko defisiensi vitamin C, folat, serta minimnya asupan serat menjadi persoalan utama.

“Serat sangat penting untuk kesehatan pencernaan dan terbukti melindungi tubuh dari penyakit jantung serta beberapa jenis kanker. Dalam diet karnivora, asupan serat hampir tidak ada,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian.

Selain itu, konsumsi daging hewani dalam jumlah besar berisiko meningkatkan asupan lemak jenuh yang dapat memicu kenaikan kolesterol jahat. Daging merah dan olahan juga telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, sementara konsumsi protein berlebih berpotensi membebani fungsi ginjal.

Dosen senior nutrisi dari University of New South Wales, Dr. Emma Beckett, menilai beberapa klaim yang beredar justru patut diwaspadai. Ia menyoroti pernyataan bahwa tubuh tidak lagi mengalami kentut atau buang air besar secara normal sebagai tanda yang tidak sehat.

“Fungsi pencernaan yang normal justru membutuhkan proses tersebut. Jika tidak terjadi, itu bisa menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaan,” tegasnya.

Senada, Profesor Emma Halmos dari Monash University mengungkapkan bahwa dalam praktik klinis, ia kerap menemui pasien yang mengalami gangguan saluran cerna akibat diet rendah serat seperti carnivore, keto, atau paleo.

Menurut Halmos, penurunan berat badan memang dapat terjadi karena diet ini menghilangkan karbohidrat, namun hal tersebut tidak serta-merta menjadikannya pola makan yang sehat. Tubuh manusia juga memiliki batas dalam menyerap protein, dan kelebihan protein yang tidak terserap dapat berdampak negatif pada keseimbangan bakteri usus.

Hingga kini, bukti ilmiah terkait efek jangka panjang diet karnivora masih sangat terbatas. Para ahli kesehatan, termasuk yang dikutip dari Cleveland Clinic, menegaskan bahwa pola makan seimbang yang mencakup berbagai kelompok makanan tetap menjadi rekomendasi utama.

Mengonsumsi buah, sayur, biji-bijian, protein tanpa lemak, serta membatasi karbohidrat sederhana dinilai jauh lebih aman dan berkelanjutan bagi kesehatan.

“Kuncinya ada pada keseimbangan dan moderasi, bukan menghilangkan satu kelompok makanan secara ekstrem,” pungkas Halmos.(hrc)




Editor : Tim
Kategori : Gaya Hidup
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top