Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Gaji Tak Naik, Cicilan Membengkak: Nasib Kelas Menengah Kian Terhimpit
Selasa 07 Oktober 2025, 11:05 WIB
ilustrasi.

JAKARTA – Kelompok kelas menengah kini berada di posisi serba salah. Banyak dari mereka bergaji pas-pasan, namun dianggap “tidak cukup miskin” untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.

Akibatnya, tak sedikit masyarakat kelas menengah yang terpaksa menguras tabungan atau berutang demi memenuhi kebutuhan hidup. Pada akhirnya, gaji yang stagnan habis hanya untuk membayar cicilan dan biaya sehari-hari.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai fenomena meningkatnya utang di kalangan kelas menengah terlihat dari melonjaknya jumlah pinjaman online (pinjol) serta pengeluaran konsumsi masyarakat.

“Jumlah masyarakat yang mengakses pinjaman online semakin tinggi, begitu pula total utang mereka. Sementara pertumbuhan kredit UMKM justru menurun,” kata Tauhid, Senin (6/10/2025).

Menurutnya, tren ini menunjukkan bahwa banyak kelas menengah kini bergantung pada pembiayaan hanya untuk konsumsi, bukan untuk investasi atau usaha.

“Kredit UMKM trennya berkebalikan dengan pinjol. Walau rasio kredit macet (NPL) pinjol di bawah 3%, trennya terus naik. Ini menandakan kelas menengah makin sulit,” ujarnya.

Tauhid juga mengutip data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang memperlihatkan perlambatan pertumbuhan tabungan masyarakat. Tabungan di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 11,9% pada periode Juli 2021–Juli 2024, turun dibandingkan pertumbuhan 26,3% pada Juli 2016–Juli 2019.

Begitu pula dengan tabungan Rp100 juta–Rp200 juta yang pertumbuhannya merosot dari 29,4% menjadi 13,3% di periode yang sama.

“Simpanan di bawah Rp100 juta makin lama makin turun. Artinya kemampuan daya tahan mereka terhadap kenaikan biaya hidup semakin melemah,” papar Tauhid.

Fenomena lain yang mencerminkan tekanan kelas menengah adalah meningkatnya porsi pengeluaran untuk makanan.

“Kalau konsumsi makanan semakin tinggi, berarti pengeluaran untuk non-makanan makin kecil. Itu tanda daya beli menurun, karena kelas menengah sehat justru punya porsi lebih besar untuk non-makanan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira. Ia menilai lonjakan industri pinjol dan meningkatnya jumlah masyarakat yang menggadaikan barang menunjukkan betapa terdesaknya kelas menengah.

“Data OJK mencatat outstanding pinjol naik 651% dalam periode 2020–2025. Sementara masyarakat yang menggadaikan barang meningkat 66% dalam lima tahun terakhir. Kalau tidak ke pegadaian ya ke pinjol se-desperate itu kelas menengah,” ungkap Bhima.

Fenomena ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk memperhatikan kembali daya beli dan kesejahteraan kelas menengah. Sebab, kelompok ini selama ini menjadi penopang utama konsumsi dan pertumbuhan ekonomi nasional.(dtc)




Editor : Tim
Kategori : Ekonomi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top