Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Dosen FISIP Unand Soroti Stagnasi Demokrasi Indonesia dalam Orasi Ilmiah
Rabu 21 Mei 2025, 10:00 WIB
Dosen FISIP Unand, Dr Aidinil Zetra orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-32 FISIP Unand di Gedung Convention Hall Kampus Limau Manis, Padang, Selasa (20/5).

PADANG – Demokrasi Indonesia dinilai stagnan dan kehilangan substansi. Hal ini disampaikan Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas, Dr. Aidinil Zetra, dalam orasi ilmiah peringatan Dies Natalis ke-32 FISIP Unand yang digelar di Gedung Convention Hall, Kampus Limau Manis, Selasa (20/5).

Dalam orasinya, Aidinil menyampaikan kegelisahan intelektualnya terhadap perkembangan demokrasi pasca-reformasi yang menurutnya cenderung prosedural namun minim makna deliberatif.

“Demokrasi kita hidup, tetapi tak bernyawa. Ia hadir dalam bentuk pemilu rutin, namun kosong dari makna deliberatif. Apa yang kita jalankan selama ini hanyalah ritual tanpa ruh,” tegasnya.

Menurut Aidinil, setelah lebih dari dua dekade sejak runtuhnya Orde Baru pada 1998, kualitas demokrasi Indonesia justru menunjukkan kemunduran. Ia merujuk pada sejumlah laporan internasional seperti Freedom House, Economist Intelligence Unit (EIU), dan Bertelsmann Transformation Index (BTI) yang menempatkan Indonesia dalam kategori "demokrasi cacat" atau "sebagian bebas".

Sebagai Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil menekankan bahwa demokrasi elektoral saja tidak cukup untuk mewujudkan kedaulatan rakyat.

“Yang kita perlukan bukan hanya suara, tetapi ruang bicara bersama. Demokrasi sejati tidak berhenti di kotak suara, melainkan harus dilanjutkan dengan musyawarah dan diskusi publik yang mendalam,” ujarnya.

Ia mengangkat konsep demokrasi deliberatif, yakni sistem yang mengedepankan dialog inklusif dan rasional dalam pengambilan kebijakan, bukan sekadar hasil suara mayoritas. Aidinil menilai, ruang deliberasi yang sehat dan representatif bagi seluruh kelompok masyarakat masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Beberapa persoalan yang ia soroti antara lain dominasi elite dalam forum-forum musyawarah seperti Musrenbang, rendahnya partisipasi masyarakat, serta ketidakpercayaan publik terhadap proses formal yang dianggap simbolik.

“Bukan hanya para elite yang kerap memonopoli keputusan, tetapi kelompok rentan bahkan memilih tidak hadir karena merasa suaranya tidak didengar. Ini adalah kegagalan sistemik,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Aidinil mendorong integrasi antara demokrasi elektoral dan deliberatif. Ia mencontohkan praktik di negara seperti Brasil yang menerapkan Participatory Budgeting dan Kanada dengan citizens’ assembly yang melibatkan warga secara langsung dalam perumusan kebijakan publik.

“Indonesia tak harus meniru, tapi bisa menumbuhkan demokrasi dari akarnya sendiri. Musyawarah, rembug warga, dan gotong royong adalah warisan lokal yang bisa diperkuat dengan prinsip-prinsip modern deliberasi,” jelasnya.

Orasi tersebut ditutup dengan harapan agar demokrasi Indonesia tidak lagi semata-mata diukur dari tingkat partisipasi pemilu, tetapi juga dari keterlibatan nyata masyarakat dalam proses kebijakan publik.

“Bayangkan suatu hari nanti, suara seorang petani di pelosok bisa bergema hingga ke ruang keputusan nasional. Itulah demokrasi yang kita perjuangkan—demokrasi yang hidup, bernyawa, dan bermakna,” pungkas Aidinil.(Rilis)




Editor : Tim
Kategori : Daerah
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top